Fokuscilacap.com, Sidareja – Dalam pembangunan nasional, Departemen PU dan Dinas PU mempunyai peran penting dalam menyediakan infrastruktur yang pastinya guna mendukung pertumbuhan dan pengembangan ekonomi, sosial dan budaya khususnya pembangunan jalan.

Dalam pembangunan jalan perencanaan harus diputuskan konstruksi apa yang cocok untuk pembangunan jalan disuatu wilayah. Apakah harus direncanakan dengan rigid pavment atau beton, atau aspal hotmix selama masa umur jalan bisa tercapai. Karena umur rencana suatu konstruksi berbeda dengan umur kontrak dan pemeliharaan selesai.

Dalam hal ini, pelaksana mestinya juga memperhatikan pentingnya masukan yang ada seperti masukan dari masyarakat.

Karena masukan dari masyarakat sebagai salah satu bentuk implementasi peran serta pengawasan masyarakat yang sangat diperlukan dalam mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Masukan yang ada mencakup gagasan, pemikiran serta saran yang bersifat membangun kinerja pelayanan. Salah satunya mengenai tindak pidana umum dan penyimpangan lain yang berakibat menimbulkan kerugian negara.

Seperti yang sekarang sedang dilaksanakan pada paket pekerjaan Karangpucung – Sidareja oleh PT Cahaya Sampurna Sejati dengan Paket proyek senilai Rp. 53.192.205.240,93 dan paket pekerjaan Sidareja – Cukangleuleus yang dikerjakan PT Hutama Prima dengan nilai kontrak Rp. 6.440.004.648 dengan status jalan propinsi dikerjakan di wilayah Kabupaten Cilacap Jawa Tengah yang baru – baru ini telah menyelesaikan pilkada dan dimenangkan oleh incumbent Tatto Suwarto Pamuji.

Ada Kejanggalan Teknis

Kedua perusahaan kontruksi tersebut sama – sama memiliki pekerjaan Rigid Pavment atau beton, tetapi dari pengamatan yang ada terlihat ada kejanggalan.

Kejanggalan itu nantinya akan berdampak pada hasil pekerjaan itu sendiri yang pastinya akan menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat kabupaten Cilacap, jika kejanggalan yang ada menjadi sebuah pelanggaran pekerjaan akan berdampak pada hasil pekerjaan yang tidak bisa digunakan dengan sempurna oleh masyarakat kabupaten Cilacap.

Dari pengamatan fokuscilacap.com dan pemerhati konstruksi jalan Warsito, menilai ada kejanggalan dalam pengerjaan proyek tersebut dalam pelaksanaannya, pasalnya dalam gambar pelaksanaan tertulis besi tie bard dipasang per segmen 5 meter.

” Tetapi setelah diamati dalam pelaksanaannya, kedua PT yang mempunyai amanah untuk masyarakat Cilacap itu terlihat banyak segmen yang tidak dipasang besi tie bard pelaksanaan hanya memasang diujung pengecoran saja. Secara teknis sudah melanggar aturan spek teknik, hal itu dalam logikanya berpengaruh pada biaya dan pengurangan volume,” jelas Warsito, Kamis (20/4/2017).

Selain itu, terlihat pada pengerjaan Karangpucung – Sidareja jarak pengecoran jalan terlalu panjang menimbulkan kemacetan panjang, terlihat juga lalu lintas tidak diatur dengan baik.

Permasalahan tersebut harus menjadi pertimbangan banyak pihak, salah satunya pihak konsultan pengawas yang tender pekerjaannya dimenangkan oleh PT Planosip Nusantara engineering dengan nilai Rp. 957.077.000 dengan dana berasal dari negara, dan bukan dari perorangan.

“Terkait kesediaan antara metode pelasanaan yang ditawarkan atau kontrak dan metode pelaksanaan yang digunakan, penyimpangan yang terjadi menjadi tanggungjawab pelaksana konstruksi.

Apakah ada kesepakatan perubahan metode pelaksanaan yang sudah disepakati oleh pengguna jasa dan penyedia jasa terkait pengaruh terhadap kualitas waktu dan biaya serta metode pelaksanaan kerja, peralatan dan bahan yang digunakan untuk pekerjaan konstruski beton apakah sesuai spesifikasi teknik?, yang semuanya itu berpengaruh pada perubahan waktu, biaya dan kualitas yang menyebabkan adanya in efisiensi yang perlu Value Engenering,” ungkap Warsito. (ags/fkc)