Fokuscilacap.com, Adipala – Perubahan konsep dari pembangunan desa menjadi desa membangun, perlu di perhatikan dan harus menjadi kekuatan desa. Hal itu di katakan Aktivis Pergerakan asal Cilacap Budiman Sujatmiko dalam pertemuannya dengan masyarakat di Balai Desa Adireja, Kecamatan Adipala, Cilacap, Minggu (1/5). 

Menurut Anggota DPR Komisi II ini, bahwa yang di sebut kekuatan pertumbuhan desa terbagi dalam tiga dimensi yaitu, Jaring komunitas desa, lingkar budaya desa, dan lumbung ekonomi. Komunitas desa terkait dengan peningkatan kapasitas warga desa, sedangkan lingkar budaya memastikan kekhasan tradisi dan budaya desa tidak hilang seiring dengan semakin berkembangnya desa.
 
Lumbung ekonomi desa terkait dengan bagaiman desa dapat berkembang dengan dapat bertumbuh tanpa bergantung kepada pihak lain. Tapi bagaimana meningkatkan kesejahteraan penduduknya dengan bergantung kepada perekonomian dan usaha yang mereka bangun. “Hal ini bisa tercapai dengan memastikan sumber daya itu dikuasai oleh desa,” ungkap Budiman, seperti dikutip Halloapakabar.com.
 
Salah satu elemen terpenting dalam pembangunan desa seiring dengan disahkannya UU Desa adalah Badan Usaha Milik Desa. Dengan memanfaatkan BUMDes, dana desa seharusnya dapat dikelola dengan baik untuk perkembangan ekonomi. Budiman juga mendorong terbentuknya BUMDes di Cilacap untuk menjadi pekerjaan rumah penting bagi Kemendes PDTT. udiman yakin, BUMDes dapat memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi desa. Bahkan Indonesia.
 
“Kalau semisalnya satu BUMDes bisa memiliki omzet satu miliar saja, sekitar 4000 BUMDes yang ada sekarang sudah memberikan kontribusi Rp4 triliun. Coba dibayangkan kalau semisalnya seluruh desa di Indonesia punya BUMDes,” ujar Budiman tersenyum lebar dengan pandangan jauh ke depan.
 
Bukan hal yang tidak mungkin sebuah BUMDes berkembang menjadi sebuah unit usaha yang omsetnya miliaran rupiah. Budiman juga mencontohkan beberapa desa di Jawa Tengah yang bekerja sama untuk membuat Sentra Peternakan Rakyat. “Di sana diajarkan bagaimana teknik beternak, pangan, segala macam. Ada kurikulum mirip sekolah peternakan untuk warga desa. Awalnya sih kita kasih nama Sekolah, tapi Mendikbud protes karena Sekolah kan patennya mereka,” gurau Budiman diiringi tawa terkekeh.
 
Tidak tanggungg-tanggung, SPR yang ikut dibinanya itu sudah menghasilkan sekitar 745 peternak. Peternak-peternak tersebut kemudian memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk desanya. Desa-desa yang terlibat pun saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan mereka.
 
Selain menjadi modal untuk pertumbuhan desa, BUMDes dapat memastikan sumber daya yang dimiliki desa dikelola langsung oleh masyarakat desa. Bukan seperti yang selama ini banyak terjadi. Masyarakat desa dapat bekerja untuk BUMDes yang ada tanpa harus menjadi buruh di kota atau luar negeri. Potensi pengembangan BUMDes hampir tidak terbatas. Bahkan dana yang diputar dalam BUMDes dapat digunakan untuk semakin meningkatkan kualitas desa.
 
“Bisa saja kan, dana tersebut dipakai untuk menyekolahkan anak-anak pintar. Namun mereka diberi ikatan dinas di desa tersebut. 10 anak disekolahkan, setiap desa di Indonesia bisa punya dokter spesialis, insinyur, pakar pertanian, atau ahli apapun. Desa pun semakin diuntungkan,” kata Budiman.
 
Inovasi memang menjadi kata kunci desa memanfaatkan potensi yang ada. Bimbingan juga dibutuhkan untuk yang masih kaget dengan perubahan konsep desa. Walau demikian, masyarakat desa tetaplah harus diberi percaya. Sebab desa pasti bisa berubah untuk Indonesia. (lex/fkc)