Oleh : Priyo Anggoro

BEBERAPA waktu terakhir banyak beredar viral video tentang penistaan/penghinaan agama yang dilakukan gubernur Jakarta, Ahok terhadap Al Qur’an.

Bahkan MUI pun sampai turun tangan untuk mengeluarkan fatwa. Bahwa itu adalah tindakan penistaan agama.

Yang paling saya takjub adalah serangan dan tudingan umat Muslim Indonesia yang menuduh hal itu adalah penghinaan terhadap agamanya.

Melihat fenomena ini saya ingin menelaah lebih jauh tentang penistaan terhadap Al Qur’an. Menurut Al Ghazali, selama ini umat Islam yang ada, termasuk di Indonesia terbagi menjadi 3 golongan.

Yang pertama, adalah sebagian umat Islam yang memiliki kepekaan tinggi dan sifat nadzhoriyah, memandang kehidupan akherat adalah tujuan utama beragama. Maka ia dibukakan mata hati dan jiwanya untuk melihat kebenaran dan ditunjukkan jalan yang lurus. Dalam Islam, orang-orang ini tergolong waliyulloh (kekasih Alloh) hanya saja orang ini hanya diketahui oleh mereka yang juga menjadi waliyulloh.

Susah mengidentifikasinya. Tapi semua orang bisa mencapai derajat ini dengan mujahadah (bersungguh-sungguh) mendekatkan diri kepada Alloh. Golongan ini yang paling selamat di akherat kelak.

Kedua, golongan umat Islam yang menjadikan dunia sebagai dasar penopang kehidupan akherat. Segala kehidupan dunia bagi golongan umat ini diraih untuk mencari ridlo dan anugerah dari Alloh. Dunia hanya alat dan sarana mencapai ridlo Alloh. Mereka pun menjalankan aturan agamanya dalam mencari dunia, karena agama bagi mereka adalah pandangan hidup dimana dunia dan akherat harus seimbang dicapainya.

Ketiga, adalah mereka yang menjadikan Islam hanya sebagai pegangan identitas, sebagian besar golongan ini tidak menjalankan perintah agama. Solat bagi mereka tidak terlalu penting. Ada yang kadang kala mengerjakan, bahkan sama sekali tidak mengerjakan namun mereka mengaku Muslim, bahkan ada juga yang rajin solat tapi maksiat tetap dijalankan.

Dalam kehidupan mereka amar ma’ruf nahi munkar hanya berdasarkan kepentingan dan pesanan belaka. Golongan yang ketiga ini adalah yang paling banyak pada zaman akhir. Ketika ayat-ayat Al Quran diinjak-injak mereka marah, tapi ketika ayat-ayat Alloh tak terasa mereka injak-injak dengan mengabaikannya mereka merasa biasa saja.

Tulisan ini hanya sebagai bahan renungan, sejauh mana kita membaca, memahami, dan mengamalkan Al Qur’an dalam kehidupan nyata. Tanpa tendensi mendukung siapa pun yang jelas-jelas keseleo lidahnya mengatakan “surat Al Maidah dipakai untuk membohongi” dan telah meminta maaf di muka umum (media). Dalam kapasitas kita sebagai Muslim, kita harus marah terhadap ungkapan yang mendiskreditkan Al Qur’an dan juga harus memberi maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan kata-kata.

Hanya saja kita juga harus berlaku adil. Ketika ada hal yang sesuai dengan norma dan nilai agama dilakukan pemimpin non Muslim dalam memimpin dalam upayanya memberantas korupsi, menegakkan keadilan, tidak menjual beli jabatan, kita pun harus apresiasi.

Karena Islam bukan hanya casing belaka tapi juga sangat dalam menyentuh makna-makna keadilan, toleransi, keseimbangan dan yang terpenting mengedepankan asas keberagaman bukan hanya membentur-benturkan perbedaan. Sehingga Islam yang ada di Nusantara benar-benar menjadi rujukan sebagai Islam Rohmatan Lil ‘Alamin. Sehingga Indonesia terhindar dari perpecahan atas nama Agama bahkan Ras maupun Suku bangsa.

Priyo Anggoro, adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap (UNUGHA) dan Redaksi Fokuscilacap.com