Fokuscilacap.com, Dayeuhluhur – Atap di salah satu ruang di Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dayeuhluhur mendadak ambruk.

Dikutip dari serayunews.com, Rangka atap bangunan yang terbuat dari baja ringan rusak parah. Sementara genteng tampak beserakan. Persitiwa itu terjadi pada Sabtu (29/7/2017) pagi.

Kepala UPT Dinas P dan K Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Tugas menjelaskan, kejadian itu bermula ketika 33 guru Pendidkan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) menggelar rapat di ruang aula UPT Dinas P dan K Cilacap.

Sekitar pukul 09.40 WIB, beberapa guru mendengar suara plafon gypsum jatuh dari luar bangunan. Suara getaran rangka atap juga semakin terdengar. Seketika itu, seluruh guru langsung ke luar ruangan. Sesaat kemudian, atap bangunan langsung ambruk.

“Dari informasi yang saya terima, saat kejadian semua guru yang berada di dalam ruangan langsung berlari menyelamatkan diri,” ungkapnya, Sabtu, (29/7/2017).

Tugas mengatakan, penyebab ambruknya atap bangunan tersebut diduga karena rangka atap bangunan yang tidak kuat menahan beban genteng. Di Dayeuhluhur intensitas hujan dalam beberapa hari tinggi. Pada Jumat (28/7/201)7) malam, hujan deras juga terjadi hampir sepanjang malam.

Genteng tersebut menyerap air sehingga beban semakin berat. “Alhamdulilah tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut, ” ujarnya.

Akibat kejadian itu, kata dia, kegiatan pelayanan maupun operasional terganggu.

Untuk sementara, operasional akan dialihkan ke SD Negeri 1 Dayeuhluhur yang tak jauh dari kantor yang beralamat di Jalan Wirapraja 18, Desa Dayeuhluhur Kecamatan Dayeuhluhur itu.

“Ada beberapa ruang operasional yang bersebelahan dengan aula. Karena kegiatan juga sedang padat, maka untuk sementara dialihkan ke sekolah sekitar 200 meter dari kantor UPT,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, kerugian akibat kejadian itu diperkirakan lebih dari Rp 600 juta lebih. Selain atap yang ambruk, sebagian dinding gedung juga rusak. Meubeler dalam ruangan tersebut juga hancur tertima atap yang ambruk. Saat ini aula gedung yang rusak sudah dipasang garis polisi untuk kepetingan penyelidikan.

“Bangungan tersebut dibangun sekitar bulan September 2014 dengan nilai sekitar Rp 397 ratus juta. Bila ditotal semua dengan kondisi kerusakan seperti itu maka kerugian ditaksir lebih dari 600 ratusan juta,” paparnya. (gus/fkc)