Oleh : Agus Fauzi

MENGAPA kita tidak belajar dari seekor burung hantu. Di siang hari dia bersembunyi dan menyelinap duduk di batang dahan paling tinggi untuk bisa banyak melihat namun sedikit berkata-kata.

Bahkan dia sama sekali tidak berkata-kata hanya untuk banyak mendengar. Dan saat harus banyak berkata-kata adalah ketika malam tiba, berkata-kata pada waktu yang tepat dibutuhkan, ketika orang-orang merenung dan memaknai apa dibalik perkataan burung hantu itu.

Nah, dalam hidup kita berkata-katalah yang baik dan bermakna, karena makna dan keramahan perkataan menciptakan keyakinan. Atau jika tidak, lebih baik mendiamkan kata-kata kita dan mendengarkan perkataan mereka.

Karena, hanya ada satu cara agar bisa berkata-kata dengan baik yakni belajar bagaimana perkataan orang. Semakin banyak kita berkata-kata tentang diri sendiri, semakin banyak pula kemungkinan kita berbohong.

Atau, meskipun itu sesuatu yang benar tetapi tidak baik diperkatakan jika berkata memuji diri sendiri. Dan, sepatah kata saja orang bisa kelihatan pandainya, sepatah kata pula orang bisa kelihatan bodohnya, maka berhati-hatilah dalam berkata-kata.

Kata-kata itu juga tidak akan memberi arti yang sebenarnya jika orang lain belum menyaksikan bagaimana pembuktian kata-kata.

Jika kita menginginkan orang lain tidak berkata-kata tentang kita, maka jangan sekali-kali pula kita berkata-kata tentang mereka, karena di dunia ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perkataan-perkataan kasar.

Berkata-kata itu tidak sulit, karena orang hanya memerlukan waktu dua tahun untuk belajar berkata-kata, tetapi harus memakan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mendiamkan perkataan (mati).

Sesungguhnya, orang yang paling bijak adalah orang yang tidak suka berkata-kata, dan hanya berkata-kata jika memang diminta untuk menyampaikan perkataan.

Orang bijak biasanya menyalahkan perkataan sendiri, sementara orang bodoh cenderung menyalahkan perkataan orang lain.

Orang bijak berpikir tanpa harus banyak berkata-kata, sedangkan orang bodoh berkata-kata tanpa didahului proses berpikir.

Agus Fauzi, Adalah Dosen Tetap Pascasarjana USNI.