Oleh: Ali Syahbana

Tanpa terasa dalam hitungan waktu kita telah sama-sama memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan agung yang penuh berkah. Bulan mulia dan terhormat tanpa perlu dimuliakan dan tanpa butuh penghormatan. Bulan istimewa dengan rentetan keistimewaannya. Bulan yang belum tentu kita cicipi dikesempatan berikutnya.

Banyak dari kita yang penuh suka cita dalam menyambut bulan Ramadhan. Tak jarang terbesit dalam hati kita untuk memaksimalkan bulan yang penuh berkah tersebut. Menjadikan bulan Ramadhan sebagai tonggak awal menuju kehidupan yang lebih baik dalam hal beragama.

Bahkan jika dilempar pertanyaan: “Apakah kita ingin puasa kita berkualitas?”. Secara normal tentu jawaban kita ingin sekali berpuasa Ramadhan dengan maksimal dan berkualitas. Akan tetapi kadang kita luput untuk meneruskan jawaban tersebut dengan menggali pengetahuan lebih dalam tentang seperti apa puasa yang berkualitas tersebut.

Dalam hal ini, penulis teringat tokoh besar Imam Abu Hamid Al Ghazali yang dalam karya agungnya, Ihya’ Ulumiddin, beliau “dawuh”: “Ketahuilah! Sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkatan; puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus.

Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menunaikan syahwat. Adapun Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Sedangkan puasa sangat khusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang semu, dari pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah secara totalitas.” (Lihat: Ihya’ Ulumiddin, sub pembahasan puasa)

Puasa umum atau puasa orang-orang awam, sependek pemahaman penulis, adalah “sekedar” mengerjakan puasa menurut prosedur hukum fiqih. Berpuasa hanya menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan intim suami-istri sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Sedang puasa khusus merupakan puasanya orang-orang saleh. Sebab dalam tingkatan ini mereka tidak hanya berpuasa sebagaimana kalangan awan tetapi juga berusaha menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Adupun puasa yang sangat khusus (khawasul khawas) merupakan tingkatan yang paling sulit dicapai. Hal ini dikarenakan hati dan pikiran orang yang berpuasa dituntut untuk selalu fokus, memikirkan hal-hal yang mulia, mengharapkan dan memurnikan semua tujuan untuk Allah semata.

Bahkan bila dalam berpuasa masih berfikir tentang apa yang hendak dimakan saat berbuka maka sudah termasuk maksiat. Inilah puasanya para nabi, “shiddiqin”, dan “muqarrabin”.

Walhasil, tentu masih ada peluang bagi kita untuk berusaha meningkatkan kualitas puasa ke dalam tingkatan yang kedua, yaitu “shaumul khawas” (puasanya kalangan khusus, orang-orang saleh).

Itupun jika kita sudah tidak betah berada dalam tingkatan puasanya kalangan awam. Atau jangan-jangan kita masih betah dalam posisi tersebut? Silakan pilih yang mana. Selamat Berpuasa.
Wallahu a’lam bis-shawab.

(Penulis adalah Alumni Pascasarjana Universitas Maroko, Alumni Ponpes Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap)