Fokuscilacap.com, Cilacap – Tingginya kadar air pada gabah sebagai akibat dari cuaca ekstrem beberapa waktu lalu, menyebabkan harga gabah di tingkat petani jatuh.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak petani resah, sehingga Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman menerbitkan Permentan Nomor 3 Tahun 2017, yang mengatur pembelian gabah di tingkat petani.

Hal tersebut menjadi salah satu poin utama yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Cilacap, di Gedung Jalabumi Setda Cilacap, Rabu (24/5/2017).

Rapat dipimpin oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, dan dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Dian Setyabudi, Komandan Kodim 0703 Cilacap Letkol (Inf) Ferdial Lubis, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap Susilan, Kepala Bulog Sub Divre IV Banyumas Setyo Wastono, serta tamu undangan lain.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Cilacap, Dian Setyabudi dalam paparannya menjelaskan, sesuai aturan tersebut, gabah diluar kualitas dengan kadar air maksimal 30 % dan kadar hampa di atas 10 %, dihargai sebesar Rp 3.700 per kilogram.

Namun untuk transaksi tersebut, Bulog harus membuat berita acara, dengan disaksikan dan ditandatangani minimal oleh dua orang yakni PPL dan Babinsa. “Sebab gabah diluar kualitas secara umum hanya dihargai sebesar Rp 3.300 rupiah , dan selisih harga Rp 400 rupiah per kilogram disubsidi oleh Pemerintah”, katanya.

Sementara itu Kepala Bulog Sub Divre IV Banyumas, Setyo Wastono menjelaskan, volume serapan beras petani oleh Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas, hingga 20 Mei 2017 baru tercapai sekitar 20 %. Dari target serapan beras sebanyak 32 ribuan ton, realisasi serapan gabah baru tercapai sekitar 6.749 ton.

Angka ini menurun dibanding periode yang sama di tahun 2016. Sebab dari target 2016 sebanyak 29 ribuan ton, realisasi serapan beras hingga Mei 2016 telah tercapai sebesar 31 %, atau 9.074 ton.

Penurunan prosentase penyerapan tahun ini disebabkan karena target serapan gabah naik. Tahun ini target serapan setara beras untuk wilayah eks – Karesidenan Banyumas sekitar 92 ribuan ton. Angka ini naik dibanding tahun 2016 yang hanya sebesar 80 ribuan ton.

“Untuk Cilacap sendiri target serapan setara gabah sebesar 50 ribuan ton, dan target serapan setara beras 25 ribuan ton”, kata Setyo.

Untuk meningkatkan optimalisasi serapan gabah dan beras, pihaknya meningkatkan koordinasi dengan TNI, Kementerian Pertanian, dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

Pihaknya mengakui tahun ini volume serapan gabah dan beras petani menurun. Meski demikian Bolog optimistis, untuk panen pada masa tanam kedua ini penyerapan gabah dan beras dari petani dapat lebih optimal.

Sebab berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, serapan gabah pada panen masa tanam kedua jauh lebih baik. Berdasarkan data Bulog Sub Divre IV Banyumas, pada tahun 2016 target serapan beras bahkan telah tercapai pada bulan September. (ags/fkc)