Oleh : Priyo Anggoro

SANTRI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah lahirnya Republik Indonesia. Indonesia merupakan bangsa yang besar dan lahir melalui proses panjang. Karena dinamika penjajahan sebelum republik ini lahir sangat begitu membekas dalam untaian sejarah kelam.

Dalam buku Religion Of Java, karangan Clifford Geertz seorang pakar sosiologi asal Jerman yang melakukan penelitian terhadap masyarakat Jawa pada khususnya, melihat bahwa masyarakat Indonesia secara garis besar terdikhotomi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Priyayi, Santri, dan Abangan. Sehingga lahirlah konsepsi Trikhotomi dalam masyarakat Jawa. Hal ini menjadi landasan bagi para pakar sosiologi dan antropologi dalam memahami masyarakat dalam kerangka besar.

Di mana salah satu dari kesimpulan buku karangan Geertz adalah meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, bahkan mencapai 90% dari jumlah penduduk, komunitas abangan lebih mendominasi daripada yang lain, santri dan priyayi. Dari sisi diferensiasi ini sangat bisa ditarik sebagai kerangka analisis dari sisi politik dan budaya.

Hingga kini pun partai Islam belum pernah benar-benar menang dalam kancah politik nasional. Artinya kelompok santri menjadi kelompok nomor dua setelah abangan. Meskipun santri yang diwakili oleh Gus Dur pernah juga memimpin negeri ini.

Tesis yang dikemukakan oleh Geertz menjadi diskursus tersendiri, bahwa sampai hari ini pun terjadi polarisasi bahkan menjurus menjadi dikhotomi antara abangan, priyayi dan santri. Sehingga terbawa dalam ranah sosial, budaya hingga politik.

Menjadi suatu hal yang wajar, mengingat dinamika hubungan agama Islam dengan kultur masyarakat Jawa cenderung sinkretisme dari awal masuknya Islam ke tanah Jawa. Hal ini menyebabkan beragamnya cara pandang tentang Islam itu sendiri.

Sehingga dikhotomi ini mampu terkonsolidir dengan apik, saat sama-sama memiliki tekad untuk terbebas dari penjajahan. Priyayi butuh santri, santri butuh priyayi, abangan butuh santri dan santri pun butuh abangan. Hingga konsep Islam Nusantara pun lahir bukan tanpa sebab musabab, tapi karena dalam rangka membangun benteng yang kokoh menjaga perdamaian dan kesatuan bangsa yang mampu berdampingan dengan toleransi dan menghargai keberagaman.

Hari santri layak diperingati untuk mengenang pahlawan dari kalangan santri dalam memerdekakan bangsa dan melestarikan kultur Islam Indonesia khas Nusantara yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Indonesia layak berbangga, karena memiliki kaum santri yang memiliki kecenderungan santun, ramah dan toleran terhadap perbedaan bahkan perubahan. Selamat hari santri nasional.

Priyo Anggoro, adalah Dosen Sosiologi Fakultas Ekonomi UNUGHA Cilacap.