Fokuscilacap.com, Cilacap – Fenomena unik dan lucu tersaji beberapa hari menjelang pendaftaran calon bupati dan wakil bupati ke KPUD Cilacap. Bagaimana tidak, partai Golkar yang selama ini diabaikan oleh bupati Cilacap dan tidak harmonis terlihat menjilat muntahnya sendiri. Dengan memberikan rekomendasi kepada petahana pada Sabtu (17/9/16) di Cilacap.

Bertempat di gedung Golkar Jl. Perwira Cilacap akhirnya Golkar bertekuk lutut dan memberikan rekomendasi kepada calon yang tidak pernah mendaftar apalagi mengikuti proses demokratisasi di Golkar.

Padahal selama ini, Golkar mengusung jargon “Suara Golkar Suara Rakyat”. Proses penjaringan calon di Golkar pun oleh deks Pilkada terlihat lebih mumpuni dibandingkan partai lain.

Menurut catatan Fokuscilacap.com, partai Golkar mampu memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat dengan menerapkan kultur pemaparan visi-misi calon bupati dan wakil bupati yang kala itu dihelat di Hotel @Hom.
Hanya saja ending dari putaran yang dilakukan Golkar jatuh pada calon yang tidak pernah mengikuti tahapan. Bahkan mendaftar ke desk Pilkada Cilacap pun tidak.

Hingga timbul lah suara sumbang masyarakat, setelah dulu ada kasus “Papa Minta Saham” yang ramai menjadi trending topic saat ketua DPP Golkar sekarang, Setya Novanto, tersandung dugaan pemerasan, di Cilacap timbul istilah “Papa Minta Rekom” yang dinisbatkan kepada Petahana. Karena Golkar pun bisa dibuat bertekuk lutut.

Keganjilan ini menjadikan kandidat yang mendaftar dan mengikuti proses merasa terabaikan dan merasa dibohongi. Karena pada saat tahapan berlangsung tidak ada info yang menyatakan bila kandidat mendapat restu dari DPP meskipun tidak mengikuti tahapan pun bisa mendapat rekomendasi dan dicalonkan oleh DPP.

Lalu keganjilan berikutnya adalah ketua DPD Golkar Cilacap, Ahmad Edi Susanto, yang juga wakil bupati Cilacap selama ini tidak pernah berjalan harmonis dengan bupati dan terlihat mendaftar menjadi salah satu calon bupati yang mengikuti tahapan desk Pilkada. Juga tidak mendapat rekomendasi partai Golkar.

Kejadian ini mengisyaratkan bahwa jargon Golkar sudah berubah seperti yang pernah dikatakan oleh ketua AMPG pusat “Suara Golkar suara penguasa bukan lagi suara rakyat”.
Proses oligarkhi kekuasaan sedang terjadi di Cilacap. Utamanya ditubuh Golkar sendiri. Yang sudah tidak percaya diri menatap Pilkada 2017 dengan menafikan banyak kadernya yang potensial dan banyak peserta yang mendaftar lewat partai beringin ini. (pri/fkc)