Bagian 1: Tato Bukan Kader NU

Fokuscilacap.com, Cilacap – Akhir-akhir ini, kita sering mendengar statemen yang menyatakan bahwa Tatto sama sekali bukan keder NU, sehingga tidak selayaknya mengaku dirinya sebagai Kader NU, dan tidak seharusnya mengharapkan dukungan politik dari Jam’iyyah NU.

Hal ini cukup membuat kontroversi di masyarakat, yang selama ini menganggap bahwa Tatto merupakan bagian tidak terpisahkan dari Nahdlatul Ulama.
Untuk menyikapi hal ini, perlu kita buka secara jernih, apa pengertian kader secara ilmiyah, sehingga tafsir atas kekaderan seseorang tidak simpang siur.

Kata Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai. Bila dimaknai secara lebih luas  berarti : 1. Orang yang mampu menjalankan amanat, 2. Orang yang memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, dan 3. Pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi.

Kader merupakan ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Secara utuh kader adalah mereka yang telah tuntas dalam mengikuti seluruh pengkaderan formal, teruji dalam pengkaderan informal dan memiliki bekal melalui pengkaderan non formal.

Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetap akan membawa misi gerakan organisasi hingga paripurna.

Kader juga berarti orang atau kumpulan orang yang dibina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi, baik sipil maupun militer, yang berfungsi sebagai ‘pemihak’ dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kader didefinisikan sebagai :

1. Perwira atau bintara dalam ketentaraan; 2 orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya.

Melihat definisi ini, maka tidaklah salah kalau dikatakan Pak Tatto bukanlah Kader NU, karena dalam catatan kami, memang beliau bukanlah orang yang pernah secara khusus dibina oleh NU, dan difungsikan sebagai ‘pemihak’ dan atau membantu tugas dan fungsi pokok NU.

Namun sah-sah saja kalau ada orang yang mengatakan bahwa Pak Tatto adalah Kader NU, karena beliau memang orang yang dipandang mampu menjaga amanat ke-NU-an (dan terbukti terpilih rakyat Cilacap sebagai Bupati, dan sampai saat ini tidak ada masalah secara hukum), karena memiliki kapasitas kapasitas pengetahuan dan keahlian, serta dapat menjadi pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan NU melalui jabatannya.

Bagi kami, walaupun Pak Tatto bukan kader NU, tetapi realitas yang tidak terbantahkan adalah bahwa beliau merupakan seseorang yang:
Tidak meragukan amalan ubudiyah ke-NU-annya.

Suka dan pengamal tahlil, tawassul, aktif manaqiban, suka ziyarah kubur, tidak menolak peringatan haul ulama, Maulid Nabi, Tarawihnya 20 rekaat, Subuh pakai Qunut, Baca Iftitah dalam sholat dan sangat erat dengan tradisi NU sejak kecil.

Secara geneologis, NU tulen.
Kalau ukurannya Calon Bupati Cilacap pada Pilkada 2017 yang saat ini muncul dipermukaan, Pak Tatto lebih jelas silsilah ke-NU-annya.

Lahir, hidup, besar dari keluarga NU totok (Ayah Alm. H. Abdul Muhyi dan Ibu Alm. Hj. Mustaqimah), dan merupakan keluarga dari Pondok Pesantren El-Bayan Majenang, karena kakak kandung beliau merupakan istri dari Pengasuh PP. El-Bayan Majenang, KH. Subki Najmuddin.

Telah Terbukti dan Teruji Kejuangannya di NU
Jauh sebelum menjadi Bupati Cilacap, Pak Tatto, telah teruji dan terbukti perjuangannya dalam turut serta membesarkan NU. Beliau merupakan salah satu donatur Pondok Pesantren, Masjid dan Musholla di sekitar, merupakan salah satu donatur SMP Maarif NU Majenang, dan beliau juga sudah sejak lama membantu biaya sekolah dan mondok anak para kyai NU yang secara ekonomi kurang mampu, namun memiliki kemauan keras untuk belajar.

Kalau kemudian Pak Tatto tidak pernah mengikuti pengkaderan di NU, dan/atau tidak pernah masuk dalam kepengurusan NU, hal itu karena memang beliau belum pernah dimintai ataupun dimasukkan dalam kepengurusan NU, bahkan hingga jadi Bupati Cilacap-pun, beliau juga tidak dimasukkan dalam jajaran kepengurusan NU, Banom, atau Lembaga.

Begitu pula dengan Ibu Tetty Suwarto Pamuji, yang karena posisinya sebagai Ibu Bupati diminta oleh PD. Aisiyyah Kabupaten Cilacap untuk menjadi salah-satu penasihat, tentu karena Bupati, adalah pengayom dan milik semua golongan, maka beliau tidak menolak dimasukkan sebagai salah satu anggota Dewan Penasihat, dan seandainya PC. Muslimat NU Kabupaten Cilacap meminta kesediaan beliau untuk menjadi apapun di PC. Muslimat NU, beliau berkomitmen akan benar-benar menerima, dan siap melaksanakan tugas apapun di Muslimat NU dengan baik-baiknya.

Penegasan yang kami peroleh adalah : “Andai saja Nahdlatul Ulama meminta siapapun dari keluarga beliau untuk masuk kepengurusan NU ataupun Badan Otonom, sebagai apapun, hampir dipastikan beliau akan menerimanya dengan lapang dada.

Bukankah ketika anak sulung beliau, Tietha Ernawati Suwarto, SE. MM. Meminta ijin untuk masuk dalam kepengurusan PC. Fatayat NU Cilacap, beliau juga mendukung dan menyetujuinya dengan suka cita.” Tentu kurang elok, kalau beliau meminta kepada pengurus NU yang ada untuk dimasukkan sebagai salah satu pengurus.

Bukankah semestinya, tugas Pengurus NU adalah membuat NU semenarik mungkin, sehingga orang yang bukan NU menjadi ingin masuk menjadi aktifis NU, bukannya malah menyatakan orang yang sudah jelas ke-NU-annya sebagai ORANG BUKAN NU..? Mari direnungkan bersama.

Penulis: Tim Fokus Tatto Cilacap 2016