Oleh : Iwan

REALITAS sosial selalu menarik untuk dikaji, baik itu pertentangan ideologi, wacana ide dan gagasan atau kemunculan habitus habitus (kesadaran palsu) baru.

Dalam studi komunikasi, wacana wacana ideologi yang berkembang menjadi ladang menarik untuk dikaji, apalagi wacana ideologi tersebut disampaikan oleh media. Seperti contoh yang paling hangat adalah wacana formalisasi agama yang dikemas oleh salah satu media dengan ingin mewujudkan perda syari’ah. Lalu ada juga wacana multikulturalisme yang dikemas juga oleh media dengan menentang adanya perda syari’ah.

Kedua wacana ini hangat bergulir. Mulai dari petani, pedagang, mahasiswa sampai praktisi pendidikan membicarakannya. Padahal jika dilihat lebih dalam kedua media tersebut sama sama mengkonstruksi sosial dengan cara mem framing siarannya. Dengan kata lain media dalam siarannya mengambil fakta-fakta yang mendukung kepentingannya. Disinilah masyarakat sering sekali terjebak pada konstruksi yang dibangun.

Dalam studi komunikasi, ada sebuah teori yang dinamakan dengan “jarum hipodermik” atau Ballet Theori. Dalam pandangan teori ini, media mempunyai kedikdayaan atau kekuasaan untuk menyuntikkan pesan yang dikemas. Sementara audience atau masyarakat tidak mempunyai keberdayaan untuk menyaring atau bahkan mengkritisi pesan yang disampaikan. Hingga akhirnya apapun yang disampaikan media dianggap kebenaran yang mutlak yang absolut dan tidak bisa didebat. Sekali lagi ini karena masyarakat tidak punya daya penyaringan atau kritis terhadap tayangan yang disajikan.

Namun pertanyaannya apakah zaman sekarang masih ada masyarakat yang seperti itu?

Jawaban saya adalah masih, namun yang menjadi sorotan saya adalah tidak terbatas pada tayangan televisi saja, namun tayangan yang disebarkan melalui group media sosial organisasi yang diikuti. Sering saya menjumpai seseorang yang mengklaim kebenaran, meng absolutkan kebenaran dengan landasan melihat video dari WA group nya. Padahal apapun pesan yang disampaikan melalui media entah itu televisi, radio koran maupun media sosial sudah melalui tahapan framing atau pemilihan fakta yang sesuai kepentingannya.

Bersyukurlah yang belajar tidak melalui media, melainkan bertatap muka langsung, karena media pasti sifatnya mengkonstruksi realitas.

Iwan, Adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Purwokerto.