Fokuscilacap.com, Cilacap – Kebijakan Menteri Pendidikan menerapkan sekolah lima hari sangat tidak tepat. Menurut rencana, sekolah lima hari diterapkan pada tahun ajaran baru yakni Juli 2017 untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Dwi Muhyidin, S.Pd.I, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Besar Alumni Institut Agama Islam Imam Ghozali/Universitas Nahdlatul Ulama Imam Ghozali Cilacap Jateng (IAIIG-UNUGHA) melalui juru bicara organisasi Sugiyantoro, S.Ag., saat ditemui disela-sela kesibukannya mengatakan berdasar aturan yuridis Pasal 31 Ayat (3) UUD 1945 disebutkan “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

“Tujuan utama sisdiknas (sistem pendidikan nasional) adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, akhlak dan karakter penerus bangsa. Para siswa dan siswi atau para pelajar itu bukan pekerja atau bekerja sehingga tidak manusiawi bila harus seritme dengan aturan ASN, lima hari kerja,” menurut Sugiyantoro.

Dalam penerapan sisdiknas hendaknya jangan ada yang dikorbankan dan dijadikan korban dari percobaan sistem dan kebijakan. Anak-anak dan remaja haruslah ditempatkan pada proporsi dan dunianya. Hak-hak mereka tidak boleh dirampas oleh apapun dan siapapun. Padahal UU No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, dalam BAB II Pasal 3 dinyatakan pendidikan nasional bertujuan untuk mewujudkan berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

IKBA akan menolak segala bentuk kebijakan yang merugikan anak bangsa. Karena pendidikan bukan ajang uji coba program, tapi satu kesatuan pola yang harus memahami identitas dan budaya bangsa Indonesia. Presiden pun sudah melayangkan surat kepada Mendikbud untuk mencabut program tersebut. Maka mendikbud harus mengkaji ulang semuanya. (pri/fkc)