Fokuscilacap.com, Cilacap – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Sosial menargetkan Indonesia bebas prostitusi pada tahun 2019. Untuk mencapai target itu, Kemensos gencar melakukan pencanangan Gerakan Nasional bebas Prostitusi di tahun 2015.

Jawa Tengah adalah provinsi yang di harpkan pemerintah bersih lebih dulu dari prostitusi dan lokalisasi PSK. Jika hal ini terwujud, Jawa Tengah bisa dikatakan daerah bersih dari yang namanya penyakit HIV/AIDS. Soalnya penyakit yang mematikan itu, bersumber salasatunya dari lokalisasi yang ada di 17 daerah di Jawa Tengah, termasuk  area Protitusi yang berada di Kabupaten Cilacap.

Seperti dikutip Halloapakabar.com, bahkan wacana akan ditutupnya semua lokalisasi yang ada di Jawa Tengah termasuk cilacap mendapat dukungan berbagai pihak. Kepala Dinsos Pemprov Jawa Tengah Rudy Apriyanto sangat mendukung wacana penutupan lokalisasi di 17 daerah yang ada di Jawa Tengah. Menurutnya, keberadaan lokalisasi  Ilegal tersebut sangat meresahkan masyarakat, dan merupakan sumber penyebaran berbagai penyakit.

“Semua lokalisasi yang ada di Jawa Tengah ajan di tutup, apalagi tidak memiliki izin, termasuk di lokalisasi Sunan Kuning (SK) yang berada di Kota Semarang, yang sudah direncanakan  akan ditutup oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi. Selain itu saya juga akan mendukung dan membantu daerah yang berkeinginan untuk menutup lokalisasi di daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Tengah,” beber Rudy kepada Wartawan di Cilacap, Kamis (10/3)

Berbagai tempat di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah, menurutnya akan di tutup area lokalusasi itu berada di daerah Kota Semarang (Sunan Kuning), Kendal (Gambilangu), Batang (Pangkalan Truk Panundan, Pangkalan Truk Banyu Putih, Boyongsari serta Bong Cino), Pemalang (Calam, Ambo Wetan), Tegal (Peleman), Banyumas (Gang Sadar/Baturaden Banyumas), Surakarta (Silir), Pati (Lorok Indah Margorejo).

“Kemudian di wilayah  Kabupaten Semarang (Bandungan), Kota Salatiga (Sembir), Karanggayar (angkrong Indah), Kudus (Gribig, Tanjungkarang), Purwodadi Grobogan (Koplak Dongkar), Klaten (Baben), Sragen (Mbah Gajah Sambungmacan) dan di Purworejo (Gunung Tugel) dan di Kabupaten Cilacap yang terkenal tempat lokalisasi ada di daerah Slarang juga terancam akan ditutup,” terangnya.

Sebelumnya, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penanganan prostitusi bukan hanya tugas Kementerian Sosial. Ia menilai, semua pihak harus terlibat dalam memberantas bisnis kotor tersebut. “Persoalan prostitusi harus ditangani dari hulu sampai hilir,” ujarnya seperti dikutip situskemsos.go.id.

Menangani prostitusi, kata dia, setidaknya harus memberantas tiga akar permasalahannya terlebih dahulu. Ketiganya adalah kemiskinan, kebodohan, dan moralitas. Pada awal Mei lalu, Khofifah telah melakukan rapat koordinasi penanganan prostitusi dan gelandangan. Rakor penanganan tuna susila itu berhasil merumuskan setidaknya tiga  kesepakatan penting. 

Pertama, pemerintah daerah yang akan menutup lokalisasi prostitusi bertanggung jawab terhadap warga miskin yang terkena dampak dari penutupan tersebut. Kedua, Kemensos bertanggungjawab pada eks Wanita Tuna Susila (WTS) yang akan direhabilitasi, tanggungjawab tersebut berupa pemberian bantuan usaha ekonomi produktif, jaminan hidup dan biaya pemulangan ke daerah asal. Ketiga, pencanangan Gerakan Nasional bebas prostitusi tahun 2015 untuk menuju Indonesia bebas prostitusi tahun 2019.

Berdasarkan data yang dimiliki Kemensos, dalam tiga tahun terakhir pemerintah telah merehabilitasi 5.000 eks WTS dari berbagai lokalisasi seluruh Indonesia. Pada tahun 2015, Dirjen Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial menargetkan akan menangani 1.000 WTS.

Tak dapat dipungkiri, prostitusi terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, baru-baru ini Kepolisian berhasil mengungkap sejumlah kasus prostitusi, mulai dari prostitusi online, prostitusi di apartemen, hingga prostitusi yang melibatkan kalangan artis.  Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa prostitusi di Indonesia sudah sampai pada tingkat darurat. Lantas, mampukah Indonesia mencapai target bebas prostitusi pada 2019? Walohualam…..

(rhm/drw/fkc).