Fokuscilacap.com, Cilacap – Kelurahan Donan merupakan suatu wilayah yang cukup terkenal di Cilacap. Kelurahan ini sekarang merupakan kawasan padat penduduk yang terdapat banyak perkantoran, dan industri atau perusahaan besar. Untuk saat ini, Donan dikenal sebagai suatu tempat yang banyak terdapat ‘orang kelas kakap’.

Namun, walau demikian, Donan ternyata merupakan tempat yang bersejarah terkait dengan Cilacap. Karena di Donan banyak terdapat petilasan, dan juga di pemakaman Karangsuci, terdapat makam salah satu Bupati Cilacap.

Dahulu kala, Desa (belum kelurahan) Donan sangat luas, belum terpecah-pecah seperti sekarang. Sebagai daerah pesisir yang dekat dengan Pulau Nusakambangan, mungkin merupakan kriteria tempat yang cocok untuk digunakan olah rasa atau ritual (semedi, meditasi, tapa). Buktinya, hingga saat ini masih banyak petilasan yang ada, meski diantaranya sekarang sudah tidak termasuk dalam wilayah Kelurahan Donan. Diantara petilasan tersebut adalah Panembahan Kendil Wesi, Panembahan Singa Lodra, Dhaon Lumbung, dan petilasan Santri Udik.

Diantara tokoh-tokoh yang pernah lelaku di Donan, salah satu yang tersebut adalah Santri Udik. Santri Udik ini menimbulkan banyak versi cerita. Ada yang menyebutnya dengan nama Cantrik Undik, Santri Gudig, santeri gundik, dan sebagainya. Ia pun dikatakan sebagai murid dari Sunan Kalijaga. Bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai Sunan Kalijaga yang menyamar. Namun, yang jelas ia adalah seorang yang melakukan perjalanan spiritual dengan tujuan tertentu yang tidak semua orang mengerti tujuannya dan bahkan asal-usulnya.

Lalu siapakah sejatinya Santri Udik?

Semenjak Keraton Nusa Tembini tidak ada, penduduk yang semula menempat di sekitar keraton dan di beberapa wilayah lainnya, kemudian sebagian besar dari mereka menempat di Desa (sekarang kelurahan) Donan, Cilacap. Dinamakan Desa Donan, menurut salah satu versi yang dikenal masyarakt adalah karena di situ dulu merupakan daerah tepian Kalidonan, yang banyak ditumbuhi pohon nipah.

Pohon ini dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama Daon. Yaitu sebuah pohon yang berdaun seperti daun pohon kelapa dan daunnya sering dimanfaatkan untuk membuat atap (saat ini masih sering digunakan di rumah-rumah makan lesehan khas tradisional/ untuk atap saung). Karena wilayah itu merupakan kawasan seperti rawa yang banyak pohon daonnya, maka dikenal dengan sebutan daonan. Daonan itulah yang “mungkin” menimbulkan nama Donan.

Selain menempat di wilayah Donan, para penduduk Nusa Tembini (Nusakambangan) pun saat itu banyak yang mendirikan rumah-rumah di atas laut, di segara anakan dekat Nusakambangan bagian barat. Kemudian wilayah itu hingga kini dikenal dengan desa Kampung Laut, yang sekarang sudah merupakan kecamatan dari beberapa desa yang ada di situ. Namun, kampung laut sekarang tidaklah berada di atas laut. Semenjak tahun 1980-an, lumpur dari Sungai Citanduy menyebabkan pendangkalan di wilayah segara anakan dan kampung laut. Akhirnya, sekarang kampung laut sudah berkontur tanah, meski merupakan dataran rendah dan sangat sulit untuk mendapatkan air sumur.

Kembali pada topik utama, sebagian besar wilayah di Cilacap saat jaman Nusa Tembini merupakan kawasan rawa-rawa yang sangat luas. Desa Donan termasuk ada dalam wilayah tersebut. Pada saat itu, ada kejadian aneh yang hingga sekarang masih banyak orang membicarakannya.

Bahwasanya sejak Keraton Nusa Tembini tiada, di Desa Donan sering muncul burung yang teramat besar. Burung ini dinamakan garuda beri. Dalam suatu versi, konon burung garuda beri ini membuat ketakutan penduduk. Karena dikhawatirkan akan memangsa manusia. Penduduk pun tidak ada yang berani menangkapnya.

Hingga lambat laun berita tersebut didengar oleh seorang tokoh yang sedang nylamur lampah (lelaku, atau perjalanan spiritual dengan mengembara). Dalam periode itu, beberapa wilayah di Cilacap dikenal sebagai wilayah yang mempunyai ciri khas menarik. Diantara penyebabnya adalah wilayah yang menarik itu karena terdapat petilasan atau tempat yang pernah digunakan untuk bertapa oleh seorang yang luhur. Seorang lelaku itu pun ingin mendatangi desa-desa di Cilacap. Ketika berada di sebuah hutan dekat rawa, Sang Pengembara merasa haus dan ingin beristirahat. Namun, ternyata sumber air di hutan tersebut tidak ditemukan.

Saking lelahnya, sang pengembara akhirnya beristirahat di dekat sebuah pohon besar dan menancapkan kayu yang menjadi tongkatnya di dekat situ. Karena seorang yang sedang lelaku, sabar dan pasrahnya menjadi pengobat kegelisahan. Setelah sejenak beristirahat dan masih merasa haus, pengembara itu berniat melanjutkan perjalanan sambil mencari sumber air.

Namun, begitu tongkatnya dicabut, memancarlah air dari tanah dimana ia menancapkan tongkat itu. Alhasil, sang pengembara meminum secukupnya. Namun, dalam hal ini, air yang memancar tidaklah seperti musibah lumpur sidoarjo. Pancaran air tersebut menjadi mata air dan membentuk sebuah sendang. Sendang itu sekarang dinamakan Sumur Gemuling.

Karena kejadian tersebut, akhirnya sang pengembara memutuskan untuk melakukan semedi (ngesti) di situ. Tempat untuk semedi sang pengembara itu hingga saat ini masih ada dan menjadi cagar budaya dalam bentuk panembahan. Sumur Gemuling pun masih ada dan masih sering digunakan airnya untuk keperluan tertentu maupun keperluan biasa. Namun, sumur gemuling saat ini tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Karena, dahulu meski terjadi kemarau panjang, volume air di dalam sumur ini tetap melimpah. Tetapi, nampaknya sekarang tidak se-melimpah waktu dahulu.

Kemudian, dari hutan tersebut, sang pengembara melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga sampailah di Desa Donan. Kabar tentang garuda beri yang sangat besar itu pun masih menjadi trending topic saat itu. Meski bagi masyarakat awam banyak yang ketakutan, tetapi ketakutan itu tidak ada bagi seorang yang sedang lelaku. Karena, sesungguhnya orang lelaku adalah orang yang sedang membersihkan dirinya (jiwanya) dan mengoptimalkan rasa yang ada pada hidupnya.

Sebagai seorang pengembara yang sedang melakukan perjalanan suci, kejadian garuda beri membuatnya sedikit penasaran. Namun, rasa penasarannya tidak ditindak lanjuti dengan sikap arogansi yang tanpa dasar. Sang pengembara tidak langsung mengambil keputusan begitu saja. Seperti biasa, ia lalu bersemedi dan memohon petunjuk pada Yang Maha Suci tentang adanya garuda beri.

Sesungguhnya garuda beri bukanlah burung yang menakutkan dan tidak berbahaya, asal tidak diganggu. Sang pengembara akhirnya mengetahui tujuan garuda beri itu. Garuda beri pun dimohon agar tidak berkeliaran lagi, karena membuat takut penduduk. Dengan mengabulkan beberapa persyaratan, akhirnya burung besar itu tidak menampakkan wujudnya lagi. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa burung garuda beri dibunuh oleh murid Sunan Kalijaga.

Sang pengembara itu melanjutkan kisah hidupnya sebagai seorang ritualis. Karena wilayah donan itu dekat dengan Nusakambangan (Nusa Tembini), konon Sang Pengembara menetap dan tetap spiritual di tepi pantai yang menghadap Nusakambangan itu. dalam menjalani lelakunya, ujian kesabaran dan ketabahan yang ada dalam dirinya adalah dia sedang mengalami penyakit kulit sejenis cacar (gudig atau gatal-gatal). Namun, ia tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Ujian itu wajar dialami oleh para kaum ang sedang menjalani laku suci.

Hingga suatu saat, melalui sebuah petunjuk, Sang Pengembara melakukan mandi di laut. Karena ketulusan dan kesabaran dalam menjalani hidupnya selama ini, penyakit kulit yang dialami oleh sang pengembara tersebut berhasil sembuh setelah mandi di laut. Sang pengembara itu pun sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sesama hidup dan Yang Menjadikan Hidup. Mungkin dari kisah itulah, hingga saat ini beberapa orang Jawa mempercayai bahwa mandi di laut dapat menyembuhkan penyakit kulit.

Sang Pengembara menempat cukup lama di wilayah Donan. Tempat tinggal sang pengembara itu kemudian dikenal dengan sebutan Dhaon Lumbung. Dhaon Lumbung merupakan tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa Cilacap sepeninggal sang pengembara. Hingga sekarang, tempat tersebut masih terawat dan merupakan warisan sejarah atau cagar budaya. Warga penganut kepercayaan Jawa (kejawen) dari berbagai desa, pada waktu-waktu tertentu mengadakan selametan besar di sini. Diantaranya adalah warga kejawen dari Desa Adiraja, Pekuncen Kroya, Pekuncen Jatilawang, Banjarwaru, dan lainnya.

Sedangkan hutan yang dulu pernah menjadi tempat istirahat sang pengembara, lambat laun menjadi sebuah desa yang gemah ripah. Desa itu kemudian dinamakan Desa Kuripan. Kuripan artinya kehidupan. Mungkin disebabkan karena di desa itu terdapat sumur gemuling. Sumur adalah sumber mata air yang juga merupakan sumber kehidupan. Desa Kuripan berada di Kecamatan Kesugihan, tepatnya sebelah utara Desa Karangkandri (batas kota Cilacap dari arah timur).

Adapun tentang sejatinya Santri Udik, sesungguhnya yang mengetahui secara pasti hanyalah kaum atau orang yang linuwihd (mempunyai kelebihan) dalam hal kebatinan. Meski banyak versi, semoga tidak menjadikan pemikiran buruk tentang Santri Udik. Sebab, perjalanan setiap manusia sesungguhnya tidak ada yang buruk dan tidak ada yang tersesat. Hanya saja, tingkatan dan keyakinan setiap manusia berbeda-beda. Santri Udik dan panembahannya pun hingga sekarang banyak yang tidak menyukai. Namun, sikap seorang yang bijaksana adalah tidak suka membenci sesuatu, apalagi membenci sesuatu yang ia tidak mengetahui sejatinya. ***

Di Sajikan oleh Sidik Purnama Negara (Bibit Serangkai)