Fokuscilacap.com, Cilacap – Rasanya belum afdol kalau orang Cilacap tidak tahu soal kisah legenda Kembang Wijaya Kusuma yang sangat terkenal di seantero nusantara itu. Legenda soal kembang yang istimewa ini ada beberapa versi

Yang akan disajikan di bawah ini adalah versi yang disusun oleh Daniel Agus Maryanto yang dimuat di dalam buku Cerita Rakyat dari Laut Selatan (2006), sebagai berikut :

PADA ZAMAN DAHULU, menurut legenda, ada setangkai kembang, atau bunga yang tidak pernah layu sepanjang musim.Bunga langka itu, konon, tidak hanya berkhasiat menyembuhkan aneka penyakit, tetapi juga menghidupkan orang mati.

Orang-orang terdahulu percaya, asal muasal bunga ajaib itu dari benang sari Bunga Wijaya Kusuma milik dewa Wisnu di kayangan, yang jatuh dan tumbuh di dunia. Bunga dewata inilah yang kemudian dicari orang untuk dijadikan jimat agar pemiliknya hidup abadi di dunia.

Pada suatu ketika, ada seorang raja dari Tanah Jawa yang bermimpi menemukan bunga Wijaya Kusuma tumbuh di sebuah pulau karang di laut selatan.

“Aku bermimpi! Aku tak bisa mati!” teriak raja dalam tidurnya. “Ada apa, Kanda? Siapa yang tak bisa mati?” tanya permaisuri yang terbangun karena teriakan suaminya. “Ah, Dinda. Kita akan hidup selamanya. Aku tahu di mana tempat Kembang Wijaya Kusuma berada,” jawab baginda yang kemudian menceritakan perihal mimpinya.

Keesokan harinya, baginda segera memanggil semua punggawa kepercayaannya. Mereka diperintahkan memetik Bunga Wijaya Kusuma yang tumbuh di Pulau Karang di Laut Selatan, yang dikenal sebagai Pulau Karang Badong.

“Tetapi Baginda, bunga itu tidak bisa dipetik pada sembarang waktu,” kata penasihat istana. “Apa maksudmu tidak bisa dipetik sepanjang waktu?” tanya raja tidak senang. “Maksudnya bunga itu hanya bisa dipetik ketika cuaca di langit sedang cerah dan Laut Selatan sedang tenang…” “Ah, kamu sungguh bodoh, kalau aku menunggu saranmu, bunga itu sudah diambil orang!” kata raja tak dapat dibantah lagi.

Akhirnya, tanpa mampu menolak perintah raja, serombongan punggawa kerajaan berangkat meninggalkan istana menuju Laut Selatan. Sebenarnya, mereka pergi dengan dibayangi rasa waswas dan ketakutan.

Petugas istana pernah menyatakan bahwa siapa pun yang melanggar pantangan akan mendapat malapetaka, bukan panjang umur.

Sampai di pantai Laut Selatan, perasaan mereka bertambah kecut. Ketika itu, ombak pantai Laut Selatan bergelora setinggi bukit.

Pulau Karang Badong yang ada di tengah samudera kadang tampak dan kadang lenyap terhalang gelombang. Suasana yang demikian memang bukan saat yang tepat memenuhi perintah raja.

Di tengah rasa bingung dan keputusasaan itu, mereka melihat seorang nelayan duduk merenung sambil memandangi laut yang bergelora. Para punggawa kerajaan itu segera menghampirinya.

“Kenapa engkau duduk melamun seorang diri di sini? Mana nelayan yang lain?” tanya para punggawa utusan raja itu. “Oh, maafkan hamba, Gusti. Hamba hanya sedang merenungi nasib,” jawab nelayan itu terbata-bata dan tidak mengingat pertanyaan para utusan raja itu. “Merenungi nasib? Memangnya kenapa dengan nasibmu?” desak para punggawa raja.

“Hamba benar-benar menjadi nelayan yang tak berguna, Gusti. Hamba seorang nelayan, tetapi tidak memiliki perahu,” ujar nelayan itu mengiba.

Mendengar jawaban nelayan itu, para utusan raja berseri-seri wajahnya. mereka menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya.

“Baik, aku akan mengubah nasibmu,” kata para utusan raja itu bersungguh-sungguh. “Mengubah nasib hamba, Gusti?” “Benar. Jangankan perahu, lebih dari itu kamu akan memilikinya. Asalkan…” “Asalkan apa, Gusti. Katakanlah…,” sahut nelayan itu tak sabar.

“Asalkan kamu bisa mengambil Kembang Wijaya Kusuma…,” “Kembang Wijaya Kusuma yang tumbuh di Pulau Karang Badong itu, Gusti?” tegas nelayan itu. “Benar, apakah kamu tahu?” “Hamba tahu gusti, tetapi sangat berbahaya sekarang ini untuk pergi ke sana,” jawab nelayan itu.

Namun, pada akhirnya, nelayan itu pergi juga karena tergiur banyaknya hadian yang akan diterima. Dengan meminjam perahu milik saudaranya, nelayan itu nekat menempuh ganasnya ombak Pantai Laut Selatan menuju Pulau Karang Badong, tempat tumbuhnya Kembang Wijaya Kusuma.

Nelayan itu harus benar-benar mengerahkan segenap keberanian dan keterampilannya agar bisa sampai ke Pulau Karang Badong. Begitu sampai, nelayan itu cepat-cepat mendaki tebing tinggi untuk segera bisa memetik bunga langka itu.

Akan tetapi, begitu dia berhasil memetiknya, tiba-tiba saja di sekelilingnya sudah berdiri wajah-wajah menyeramkan. Wajah-wajah setan juga ingin memiliki bunga dewata agar bisa hidup selamanya.

“Ha…apakah kamu sudah bosan hidup berani memetik bunga itu! Ayo serahkan bunga itu?” teriak setan-setan berwajah seram itu. “Tidak, bunga ini untuk raja,” kata nelayan itu sambil berlari menerobos kepungan setan-setan itu dengan senjata parangnya.

Nelayan itu terus berlari menuju perahunya. Namun, betapa kecewanya ketika ia melihat perahunya sudah berkeping-keping dihantam ombak di antara baru karang.

Tubuh nelayan itu langsung menggigil ketakutan membayangkan nasibnya, mati ditelan ganasnya ombak Laut Selatan, atau dibunuh oleh setan penunggu Pulau Karang Badong.

Akhirnya, ketika para setan yang mengejarnya semakin dekat, nelayan itu tidak punya pilihan lagi. “Oh Dewa, tolonglah hambamu ini!” teriak nelayan itu dan kemudian menceburkan diri ke dalam ombak yang bergulung-gulung.

Tubuh nelayan itu timbul tenggelam dalam gulungan ombak. Namun jiwa nelayannya menjadikan dia tidak menyerah. Dengan sekuat tenaga, dia berenang meraih sebuah papan yang rupanya berasal dari pecahan perahu miliknya.

Nasib baik masih bersama nelayan itu. dengan memeluk erat-erat pecahan papan, tubuh nelayan itu ditemukan oleh para punggawa dalam keadaan sekarat pada keesokan harinya.

Namun, para utusan raja itu ternyata tidak bertanggung jawab. Mengetahui keadaan nelayan yang sekarat, para utusan raja itu hanya mengambil Kembang Wijaya Kusuma, sementara tubuh nelayan yang malang itu dibiarkan begitu saja.

Namun, pada akhirnya, raja dan punggawa yang telah berani melanggar pantangan itu harus menanggung akibatnya. Satu per satu punggawa raja itu mati tanpa diketahui sebabnya yang pasti. Sementara itu, raja sendiri menjadi gila dan meninggalkan istana.

Nelayan yang semula begitu mengutuk para utusan raja yang telah membohonginya, akhirnya masih dapat bersyukur. Dia bersyukur meskipun tidak mendapatkan perahu. Jiwanya masih selamat.

Lalu, bagaimana nasib Kembang Wijaya Kusuma itu? Bunga itu menghilang secara gaib, kembali kepada para dewa. (dok)

SALAM REDAKSI : Jika para pembaca, punya tulisan kisah legenda atau cerita/dongeng dari orang tua/karuhun/kokolot mengenai peninggalan sejarah atau asal-usul nama tempat/kampung di Cilacap, yuks berbagi cerita dengan Fokuscilacap.com. Kisah legenda dapat dikirimkan via email: redaksihallo@gmail.com, redaksi@fokuscilacap.com, atau via SMS/WA: 081915557788)