Fokuscilacap.com, Cilacap – Fasilitas keamanan tingkat tinggi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Batu, Pulau Nusakambangan, ternyata tak mampu menahan Narapidana kambuhan. Bahkan banyak kisah Narapidana tersebut, dilaporkan sukses melarikan diri dari pulau lapas yang berada dalam wilayah administratif Cilacap, Jawa tengah. Berikut Fokuscilacap.com mengupasnya, siapa saja dan bagaimana ceritanya. Ikuti serial kisahnya.

Pak Sastro, Si Papillon

Perawakannya sedang, kumis tipis melintang dan kulit cokelat matang. Sosok Sastrowiyono bin Wongso, laki-laki 55 tahun, adalah tipikal laki-laki Jawa. Pak Sastro sama sekali tidak tampak sangar. Pernah mendekam di Penjara Cirebon, Jawa Barat, dia terkesan seperti seorang pemikir, karena dia punya kegemaran berdiskusi politik dan mendengarkan siaran radio BBC.

Memang, bila dilihat penampilannya, tidak ada yang menduga masa lalu gelap pekat Sastro. Tapi, dari lama hukumannya: 21 tahun (Sastro masuk ke penjara Cirebon sejak September 1984), bisa dipastikan seberapa berat kejahatan Sastro. Pria yang pernah menjadi manajer dapur dan pemuka narapidana di LP Cirebon itu adalah perampok dan pembunuh serta pernah lari dari LP Nusakambangan.

Syahdan, Sastro mengawali karir bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai pedagang pakaian jadi dan bahan pakaian di Sumatra Selatan dan Lampung, sejak 1970-an. Kiprahnya cukup sukses sehingga Sastro mendapat julukan sebagai “bandar gombal”.

Ketika Sastro sudah menjadi pedagang besar di Pasar Metro Lampung, dia justru ikut dalam pergaulan yang tidak benar di kalangan para bandar. Sastro mulai kenal dengan judi, mabuk tuak, dan main perempuan. Dari sinilah kisah kejahatan Sastro bermula. Dia terlibat dalam perampokan dan pembunuhan.

Pada 1974, Sastro divonis empat tahun penjara di LP Metro Lampung. Tapi, karena kelakuannya yang brutal-suka berkelahi dan cari perkara di kalangan para napi-Sastro dipindahkan ke LP Cipinang, lalu dibuang ke Nusakambangan pada awal 1978. Namun, kesangaran Nusakambangan tidak menaklukkan keliaran Sastro. Pria yang dikenal dengan julukan Sastro Perampok itu tetap ditakuti oleh para napi lainnya di lingkungan Penjara Besi, Nusakambangan.

Setelah menjadi jagoan di antara para bromocorah, lalu apa? Mulailah muncul ide Sastro untuk melarikan diri. Dalam waktu setahun dua bulan, Sastro mempersiapkan diri untuk pelariannya, tanpa bercerita ke seorang teman pun. “Biasanya, untuk urusan pemberontakan, teman-teman melakukan kegiatan kolektif,” kata Sastro. “Tapi saya tidak mau berisiko tertangkap,” tambahnya.

Selain latihan bela diri, Sastro latihan yoga setiap malam, terutama untuk melatih pernapasannya. Pola latihannya adalah 1:1, yaitu menarik napas dalam 15 hitungan dan melepaskannya dalam 15 hitungan; bertambah menjadi 2:1, yaitu menarik napas dalam 30 hitungan lalu melepaskannya dalam 15 hitungan; atau sebaliknya, 1:2.

Pada Juni 1979, mirip tokoh dalam novel Papillon, Sastro mulai memperhitungkan kesempatan terbaik untuk lari. Saat itu adalah musim kemarau. Ketika purnama, sekitar pukul tujuh malam, Sastro memulai petualangannya dengan keberhasilannya melompati tembok LP Besi setinggi empat meter. Lalu, Sastro menggunakan garis edar bulan sebagai petunjuknya menuju pantai. Sastro yakin, bila dia mengikuti arah bulan ke utara (bila berpatok dengan arah Pulau Jawa, arah utara yang dimaksud Sastro adalah utara timur), dia akan menemukan daratan.

Setelah 500 meter berjalan, Sastro, yang hanya mengenakan sehelai baju preman dan celana pendek, mulai mengarungi hutan rawa bakau selama dua malam satu hari. Untuk makanan, Sastro menyantap buah rukem dan jlujon, makanan ular berbisa yang berasa pahit. Sastro juga mengisap air di dalam tubuh yuyu, sejenis kepiting. Rasa cairan itu manis dan sama sekali tidak amis.

Beruntung, Sastro ditahan di LP Besi, yang letaknya paling dekat dengan pantai, sehingga dia segera bisa membuktikan kemampuannya berenang menyeberangi Segara Anakan, yang saat kemarau tidak terlalu deras ombaknya. Ketika itu, Sastro masih mampu berenang hingga satu kilometer dengan gaya punggung tanpa berhenti. Dia mengaku beberapa kali bertemu dengan perahu nelayan dan dua kali berpapasan dengan kapal patroli. “Saya bisa menyelam hingga 15 menit, bila ketemu patroli,” katanya. Selain itu, Sastro juga bisa merapatkan tubuhnya di rawa-rawa, yang hanya menyembul bila kemarau.

Setelah semalaman menyeberang Segara Anakan, Sastro sampai di daratan sekitar saat subuh. Dengan badan lunglai, Sastro mencoba tetap berjalan cepat mengikuti arah berjalan orang-orang menuju ke pasar. Dari pembicaraan di antara penduduk setempat, Sastro tahu bahwa dia berada di Desa Kubangkangkung, Cilacap.

Setelah itu, Sastro menghubungi seorang teman agar dibantu pergi ke Jakarta lalu langsung ke Lampung. Dan pelarian Sastro itu tidak akan terungkap seandainya dia tidak mengulangi kejahatannya: merampok dan membunuh, yang menyeret dia ke LP Cirebon, untuk menjalani semua sanksi bui baru selama empat tahun plus utang hukumannya hingga menjadi 21 tahun.

Demikian kisah Sastro. Untung saja, laki-laki itu menjadi lunak di LP Cirebon. Dia bekerja di pabrik pemintalan di dalam LP Cirebon. Upahnya Rp 6.000 hingga Rp 10.000 sebulan. Selain itu, Sastro menjual mi instan dan rokok di dalam selnya. Alhasil, Sastro punya uang tabungan. Sastro juga rajin belajar, ikut Kejar Paket B. Prestasinya terbukti dengan menjuarai lomba Cerdas Cermat antarnapi. Tampaknya, Sastro memang benar-benar ingin bertobat. Dia tidak pernah mengizinkan sanak keluarganya datang menengok. “Cukup saya saja yang merasakan dan menebus dosa-dosa ini,” ungkapnya. (fkh/fkc)