Oleh : Agung Lindu Nagara

TATAPAN seorang lelaki nampak kosong saat memasuki sebuah rumah di Jalan Waskita, Kecamatan Maos, dia lantas duduk di kursi sofa bermotif bunga. Tidak banyak kata terucap, entah pikirannya sedang berada di mana kala itu.

Sang pemilik rumah, Lulu il Maknun atau lebih dikenal dengan Mas Lurah lantas meminta lelaki tersebut untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Dengan jawaban sekadarnya, ternyata dia memendam kekecewaan mendalam dengan kawan-kawan dekatnya.

Tidak langsung menanggapi persoalan klien yang  juga sahabat lamanya itu, Mas Lurah justru mengajak semua yang hadir di rumahnya mengikuti tes sugesti dengan mengeraskan tangan menjadi besi dan sama sekali tidak bisa dibengkokkan.

“Kegiatan tadi untuk mengetahui mudah atau tidaknya seseorang menerima sugesti dan itu juga berkaitan dengan fokus,” ujar suami dari Sofi Aprilaeni itu.

Sesi demi sesi terapi tun terus berlanjut, hingga akhirnya lelaki itu bisa menemukan solusi dari masalahnya dan kembali bersemangat menjalani kehidupan bahkan bisa bercerita dengan gamblang rencananya ke depan.

“Inti dari sebuah masalah itu terletak di pikiran dan hati, karenanya dalam sesi hypnotherapy yang diatur ulang itu pikiran klien dan hatinya dikuatkan,” kata lelaki kelahiran 21 April 1979.

Sebelum menjadi praktisi hypnotherapy, pada periode 2012 Mas Lurah dikenal sebagai aktivis sosial, ia bergabung dengan Majelis Rakyat Cilacap (MRC) dan terlibat dalam penanganan kasus bayi tanpa anus bernama fajar asal Kampung Laut.

Tidak hanya itu, ia bersama sejumlah rekan di MRC juga menolong remaja putri yang mengalami gangguan jiwa bernama Sartini asal Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah untuk mendapatkan perawatan yang layak di Rumah Sakit Jiwa Magelang.

Kecintaannya yang tinggi pada dunia sosial lantas mendorong Mas Lurah bergabung dengan Korps Sukarela (KSR) PMI Cilacap pada 2014 silam. Dari situlah ia mendapat pelajaran dasar mengenai hypnotherapy dan sangat membantunya dalam memulihkan trauma korban bencana alam.

“Sejak itu, saya terus belajar dan semakin memperdalam hypnotherapy pada 2016, doakan agar dalam waktu dekat bisa memperoleh sertifikat instruktur, hypnotherapy juga mengubah pola pikir saya dalam menghadapi masalah,” ujar ayah dari Isya Khoirunisa dan Ahmad Wildan itu.

Dia bercerita pernah suatu saat sama sekali tidak punya uang, bahkan untuk membeli lampu pun kala itu belum bisa, yang dilakukannya hanya tersenyum dan terus meyakinkan diri jika masalahnya terselesaikan.

“Saya lantas menelepon kawan yang sama sekali belum pernah bertatap muka di dunia nyata untuk meminjam uang, ternyata dia memberi lebih dari yang dibutuhkan saat itu,” kata lelaki dengan pembawaan kalem itu. (***)

(Penulis Adalah Koordinator Liputan Fokuscilacap.com)