Oleh : Lubadul Fikri (Gus Fikri)

KITA sering melihat hal yang sebenarnya kurang berkenan di hati kita, tapi hal tersebut tidaklah membuat kita ‘gemletak’ karena ‘gemes’ terhadap fenomena yang ada dihadapan kita, tetapi apakah dengan ke ‘gemesan’ kita atau menyatunya gigi atas dengan gigi bawah akan merubah sebuah fenomena.

Belum sirna dalam ingatan kita, bahwasannya salah satu petinggi daerah telah tercabik segala kebaikan-kebaikan yang pernah tertoreh hanya karena untaian kata yang di anggap keliru oleh sebagian masyarakat, beberapa melakukan pembelaan terhadapnya, dan sebagian yang lain memilih diam mengamati kadang ‘nggrundel’ bersama dengan yang lain.

Berselang dari berikutnya, saat ada tokoh muda dengan kecendekiawanannya memberikan argumen terhadap tokoh petinggi daerah, dihujat oleh sebagian yang lain, karena dianggap membela sesuatu yang tidak benar, padahal benar sendiri bersifat subyektif walau ada kebenaran umum.

Baru-baru ini ada ustadz muda, yang biasa memberi ceramah memberikan gambaran surga di televisi, yang biasanya dijadikan tempat kita sebagai titik akhir pencapaian setelah kehidupan dunia dalam hal beribadah di gambarkan dengan perkara yang di pandang tabu.

Sebelum ustadz televisi melakukan ceramah yang berdampak menghangatnya dunia online dan dunia gunjingan itu terjadi kita disuguhkan tentang perdebatan ‘full day school’ yang berakar dari Peraturan Menteri Pendidikan

Pertanyaan yang muncul, bagaimana sikap kita saat di hadapkan dengan fenomena yang seperti itu? Tentu sesuatu yang terjadi belum bisa dikategorikan hal yang relevan dari hukum sebab akibat, jika dilihat dari runtutan di atas berkutat dari salah dan benar.

Salah dan benar versi publik itu menjadi opini hingga tercipta tindakan, ada demonstrasi, ada forum debat antara yang pro dan kontra, ada juga yang diam mengamati bahkan ada yang diam bingung.

Coba kita meniru tentang tauladan kita nabi agung Muhammad Saw. saat kita melihat kesalahan, kita mengingatkan dengan kesantunan dan setelah itu kita mendoakan agar jangan ada ucapan yang bisa membuat kita terpecah belah berselisih paham saling tuding. Kita berbeda dengan Rosul yang doanya mustajab, maka doa tersebut di adakan secara berjamaah.

Jika ada seorang pemimpin melakukan keputusan atau aturan yang berbeda dari apa yang kita pahami, tanamkan rasa ‘khusnudzon’ jika dalam khusnudzon masih muncul keraguan datangi dengan perwakilan-perwakilan kita untuk memahamkan maksud dari pemimpin tersebut, budaya menyalahkan bukan budaya Islam, Budaya nilai itulah budaya Islam, karena saat Ijtihad kita keliru kita tetap mendapatkan, benar hanya milik allah Swt., milik kita hanya ikhtiar beribadah dan saling mendoakan keselamatan sesama keyakinan.

wallahu a’lam bisshowab

Lubadul Fikri (Gus Fikri), Adalah Tokoh Muda Cilacap.