Fokuscilacap.com, Semarang – Para calon pemudik yang akan melintas di wilayah Jawa Tengah harus mewaspadai titik kemacetan yang bakal menyita waktu dan kesabaran. Dinas Bina Marga Jawa Tengah mencatat, terdapat 11 titik simpul kemacetan yang membentang dari tapal batas Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, Bambang Nugroho Kristadji mengatakan, ke-11 simpul rawan kemacetan berada di area proyek perbaikan jalan raya di Purbalingga Klampok, jalan raya Kebumen-Cilacap, lalu jalan raya Kabupaten Boyolali hingga Magelang-Jrakah, Salatiga-Kedungjati Ungaran, Kabupaten Blora. “Itu semua pasti macet karena masih adanya perbaikan jembatan. Seluruh pekerjaan jalan akan kami setop serentak pada H-10 Lebaran nanti,” ujar Bambang, seperti dikutip Halloapakabar.com.

Simpul kemacetan lainnya, kata Bambang juga tersebar di kawasan jalan yang terendam banjir dan rob wilayah Kaligawe, Semarang. Di Kendal juga berpotensi macet karena ada jalan menanjak. Lalu jalur Parakan (Temanggung)-Patean (Kendal) serta Weleri-Patean. Kemacetan juga diakibatkan pasar tumpah, pembangunan jalan yang belum jadi sepenuhnya, banjir dan rob, hingga perbedaan tinggi jalan.

Tujuh titik rawan macet paling parah diprediksi berada di pantura. Yakni pasar tumpah Losari-Pejagan, Brebes, kemudian penggantian jembatan Kali Pah, Kabupaten Tegal dan penggantian jembatan Sipait, Kabupaten Pekalongan, selanjutnya potensi beda tinggi jalan di Parakan (Temanggung)- Patean, Kendal, kemudian banjir rob di Jalan Kaligawe, Semarang, dan perbaikan jembatan Gelandangan di Blora.

Titik macet lain berada di Salatiga- Kedungjati, Kabupaten Semarang; ruas Magelang-Jrakah- Boyolali; dan Klampok-Purbalingga karena beda tinggi jalan. Adapun di Kebumen dan Cilacap ada titik rawan macet yang disebabkan pekerjaan jalan yang belum selesai.

Wakil Ketua Komisi D (bidang Pembangunan) DPRD Jateng Hadi Santoso mengatakan, untuk menghindari kemacetan di jembatan Kali Pah, pemudik dapat melewati jalur alternatif Tegal-Slawi-Jatinegara-Randudongkal- Bantarbolang-Kebonagung- Pekalongan. Kemudian, alternatif kemacetan di jembatan Sipait, lalu lintas diarahkan ke Wiradesa-Bojong-Sragi-Comal.

”Secara umum, jalur utama pantura sudah baik, tapi masih ada perbaikan. Di titik tertentu perlu rekayasa lalu lintas. Jalur-jalur alternatif dan jalur selatan sebagian masih diperbaiki. Ada beda tinggi jalan dan diantisipasi dengan rambu-rambu. Jalur tengah sudah baik. Jalur lintas selatan, di beberapa lokasi permukaan jalan kurang mulus,” jelasnya.

Berbagai persoalan lain, kata Hadi, psikologis pemudik yang seolah enggan memilih alternatif mudik melalui jalur pantai selatan atau jalur selatan-selatan (JSS) dan juga jalur tengah perlu dikaji.

“Persepsi jalur selatan yang sempit, berkelok, gelap, rawan dengan kondisi jalan rusak merupakan persepsi yang selama ini melekat. Pemerintah harus terus mengenalkan dan mensosialisasikan kondisi jalur selatan dan jalur tengah yang saat ini sudah dalam kondisi yang jauh lebih baik,”ujarnya.

Sehingga, para pemudik perlu mempertimbangkan jika mudik sebelum H-5 atau jika ada kabar jembatan Sipait belum bisa dipakai, apabila tidak bisa menggunakan transportasi umum serta terpaksa menggunakan jalur darat maka pilihannya adalah keluar dari Tanjung menuju Majenang Cilacap.

Para Pemudik juga bisa melalui Pejagan-Ketanggungan- Bumiayu-Ajibarang-Wangon, ini merupakan jalur perpindangan dari Pantura ke jalur tengah dan atau jalur selatan yang saat ini cukup siap.

Beberapa jalan alternatif ini, kata Hadi, terus dipersiapkan oleh Pemerintah dengan terus dilakukan perbaikan sekunder, pemasangan marka, rambu dan penerangan jalan sehingga nanti mampu menjadi pilihan pemudik.

Namun demikian, Hadi mengimbau para pemudik untuk waspada saat melalui jalur alternatif, pasalnya lampu penerangan jalan umum dan rambu-rambu lalu lintas di sejumlah jalur alternatif tersebut masih minim karena keterbatasan anggaran.

“Rambu-rambu pada jalur alternatif ada yang sedang dalam proses pemasangan, namun untuk penerangan jalan umum belum ada semua, seperti di jalur Pubalingga-Randudongkal, sedangkan di jalur Randudongkal-Kesesi sudah ada sebagian yang menyala,” ujarnya. (gun/fkc)