Fokuscilacap.com, Cilacap – Mulai tahun ajaran 2017/2018, pemerintah menetapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru. Zonasi merupakan upaya mewujudkan pemerataan pendidikan. Melalui sistem ini sekolah hanya dapat menerima siswa yaang berdomisili sesuai zonasi yang telah ditentukan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, Warsono, SH, M.Hum menjelaskan, sistem ini berlaku secara nasional berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017. Untuk Kabupaten Cilacap sendiri, zonasi ditetapkan sesuai dengan wilayah eks-distrik, yakni Distrik Cilacap, Kroya, Sidareja, Majenang.

Meski demikian ada beberapa pengecualian bagi siswa yang berdomisili di perbatasan distrik, untuk memilih sekolah yang lebih terjangkau. “Misalnya siswa di Kesugihan dan Maos, itu kan mepet-mepet, maka diberi kesempatan pilih yang terdekat. Tujuan zonasi agar tiap sekolah lebih kompetitif.

Tidak ada lagi sekolah favorit karena semua sekolah punya kesempatan yang sama”, kata Warsono. Aturan ini berlaku di seluruh tingkat satuan pendidikan, dan telah disepakati bersama penyelenggara pendidikan baik negeri maupun swasta.

Namun tidak berlaku untuk SMK, karena sekolah tersebut menawarkan program kejuruan yang berbeda, sehingga siswa diperkenankan memilih jurusan yang dikehendaki. Sebelumnya pemerintah menerapkan standar NEM atau grade, dalam penerimaan siswa baru.

Dengan berubahnya sistem penerimaan siswa baru menggunakan zonasi, tiap sekolah baik negeri maupun swasta wajib menerima siswa baru, berdasarkan zona masing-masing. Adapun terkait kuota tiap sekolah, penetapannya disepakati dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

“Zonasi tidak menentukan NEM, tapi anak tinggal dimana bisa daftar dimana. Maka dengan sistem ini tidak lagi ada lagi siswa dari Bantarsari daftar di Cilacap, karena zonanya berbeda”, pungkasnya.(gus/fkc)