Oleh: Agung Lindu Nagara

SEJARAH di Indonesia mencatat kehebatan tokoh-tokoh seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Supriyadi yang sama-sama dibesarkan dalam pasukan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang.

Namun banyak tokoh penting dalam perjuangan bangsa yang tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Satu di antaranya yakni Kusaeri, seorang anggota PETA yang bertugas di Gumilir, Kabupaten Cilacap.

Data mengenai Kusaeri sangatlah minim, berdasar arsip milik Dinas Sejarah Militer, Komando Daerah Militer (KODAM) IV Diponegoro hanya disebutkan, Kusaeri berasal dari Setabelan, Purbalingga.

Posisi terakhir Kusaeri yakni Budanco, dia bertugas di Gumilir di bawah pimpinan Cudanco Tulus Subroto.   Adapun tugas mereka yakni menghadapi kemungkinan mendaratnya pasukan Sekutu dari Samudera Hindia.

Meski menjadi bagian dari pasukan Jepang, Kusaeri sangat tidak senang dengan perilaku Kempetai yang bertindak sewenang-wenang dan di luar batas peri kemanusiaan, terutama terhadap romusha serta perempuan.

Penderitaan rakyat yang sangat berat, bencana kelaparan, berjangkitnya wabah-wabah penyakit maupun kondisi perekonomian yang morat-marit kian membulatkan tekad Kusaeri untuk memberontak terhadap penjajah Jepang.

Jauh sebelum pemberontakan dimulai, Kusaeri telah menyebar propaganda perlawanan di kalangan rekan-rekannya semasa bertugas di Slarang menggunakan surat selebaran yang dibubuhi cap dari duri cangkring.

Dalam waktu singkat, ia berhasil meyakinkan sejumlah Budanco yakni Suwab, Wasirun, Hadi, Mardiyono, Saryono, Udie, S. Wiryosukarto, Taswan Jumiran, Sujud dan lainnya.

Sebagai ahli strategi, Kusaeri menyiapkan rencana pemberontakannya dengan matang, selain menggelar rapat rahasia ia juga meminta restu ke sejumlah tokoh agama.

Mereka yaitu Kyai Bugel asal Lebeng Cilacap, Kyai Juhdi dari Rawalo Banyumas dan KH Muhammad Shidiq asal Kebanaran Banjarnegara.

Berdasar arsip juga disebutkan apabila rapat terakhir pada 5 April 1945 yang berlangsung di belakang gudang peluru ditetapkan apabila pemberontakan dilaksanakan 21 April 1945 pukul 23.00.

Diputuskan, mereka akan bergerak ke Kidobutai di daerah Babakan dan Gunung Srandil untuk membunuh Shidokan dan Shodanco yang tidak mau bekerjasama melawan penjajah Jepang.

Sebelum hari H, Kusaeri terus meminta dukungan kawan-kawannya Imam Adrongi dari Kroya, menugasi Shodanco Sudarwo untuk menggempur markas Kempetai dan menyuruh Shikihanco Achmadi memutuskan jalur perhubungan antara Cilacap dan sekitarnya. (Bersambung)

(Penulis Adalah Koordinator Liputan Fokuscilacap.com)