Fokuscilacap.com, Cilacap – Pondok Pesantren memiliki sistem pendidikan yang lengkap melebihi Full Day School yang dicanangkan Mendikbud dan kemudian dibatalkan oleh Presiden Jokowi. Hal ini disampaikan oleh Shoiman Nawawi, SHI., MH. Wakil Rektor UNUGHA Cilacap pada Senin, (19/6/2017).

“Sistem pendidikan pesantren melebihi FDS, karena sampai 24 jam tiap harinya santri diawasi kyai, maka warga NU tidak perlu panik dan “gemrungsung” dengan program ini. Terkadang, mayoritas warga NU lebih melihat pada sentimen organisasi atau paranoid terhadap background mendikbud yaitu ormas Muhamadiyah. Mungkin perlu dikaji lagi kebijakan yang baik ini dan kita harus menelaah secara berimbang,” jelas Shoiman.

“Mendikbud tergesa-gesa memutuskan FDS tanpa melihat kemungkinan penolakan masyarakat, tapi meski begitu, sikap PBNU terlalu merespon berlebihan terhadap program ini, padahal menurut saya cukup disikapi oleh LP. Ma’arif, PMII, ANSOR, IPNU sudah cukup,” jelas Misbah, saat ditemui di UNUGHA Cilacap.

Wacana Full Day School sudah lebih dahulu dipraktekan dalam pendidikan pesantren. Bahkan sistem pendidikan pesantren mampu bertahan lama untuk menyelenggarakan sistem belajar 24 jam penuh, melebihi wacana FDS tersebut.

Bahkan disuatu kesempatan, Al Maghfurlah KH. Chasbulloh Badawi mengenalkan konsep Long Life Education atau belajar sepanjang hayat kepada para santrinya. Sehingga mayoritas santri Al Ihya tidak menyikapi berlebihan wacana Full Day School ini. “Seperti ada dalam falsafah Jawa, Ojo Gumunan Ojo Kagetan” seperti yang pernah disampaikan oleh KH. Chasbulloh Badawi pada tiap kesempatan. Ke depankan khusnudzon, belum tentu yang kita lihat buruk itu sejatinya buruk, atau yang kita lihat baik itu sejatinya baik. (pri/fkc)