Oleh : Lubadul Fikri

SEBAGAI warga NU tentu, harus bangga dengan terlahirnya Partai Kebangkitan Bangsa yang di dirikan oleh petinggi-Petinggi NU. Pengurus Besar, PW atau Pun PC.

Masih ingat betul bagaimana dulu di ujung-ujung jalan generasi-genarasi muda NU tergabung dari laskar-laskar bersatu padu mengusung terbentuknya Partai Kebangkitan Bangsa.

Untuk di Cilacap, deklarasi-deklarasi besar-besaran dengan di adakan Istighotsah di Alun-Alun kota, masih terekam jelas bagaimana para tokoh waktu itu bahu-membahu agar terlahirlah jabang bayi Partai Kebangkitan Bangsa.

Harapan dengan adanya PKB nanti bisa berguna untuk Membela Bangsa, hal itu terlihat dari salah satu Deklator KH. Mustholih Badawi memberi nama Putranya yang terlahir pada saat gelora Istighotsah dan pembuatan struktural PKB di tiap-tiap Kecamatan, dengan nama Ben Bela Bangsa.

PKB bukan lahir dari politisi, PKB lahir dari para tokoh NU, PKB lahir bukan dari tumpukan materi para founding father, PKB lahir dari kebersamaan dan Urunannya warga NU dan simpatisan Kyai.

Semoga hanya di Kabupaten Cilacap, yang DPC. PKB dengan NU Cabang belum harmonis, bahkan sekarang PKB yang dari 3 dewan bertambah menjadi 6 seakan tidak membuat putra daerah dipercaya untuk menata PKB dengan Muscabnya.

Padahal saat merintis PKB saat itu tokoh NU dan warganya sedemikian semangat menggelorakan Istighotsah.

Bahkan Ibu-Ibu Nyai tanpa pamrih baik Fatayat atau pun Muslimat membuat nasi bungkus untuk para jamaah Istighotsah.

PKB meniti kejayaan kembali pada tahun 2014, juga setelah mengalami porak-poranda diterjang konflik yang sebenarnya merupakan pembelajaran dalam menghadapi sengketa pemikiran.

Benang konflik tersebut terurai setelah Lembaga Bahtsul Masail (LBM-PBNU) mengadakan Bahtsul Masail Nasional pada tanggal 8-9 Mei 2013 Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin dengan 3 Pembahasan yang salah satu masailnya adalah Pasang Surut Peran Politik Nahdliyyin.

Lubadul Fikri Adalah Kader PKB Kabupaten Cilacap.