Oleh : Kabul Wibowo, S.Sos

RUQIAH secara Etimologi adalah jampi-jampi atau mantera, sedangkan menurut Istilah terminologi adalah jampi-jampi atau mantera yang dibacakan oleh seseorang untuk mengobati penyakit, menghilangkan gangguan jin, sihir atau perlindungan dengan menggunakan ayaat-ayat Al-Qur’an dan do’a – do’a yang bersumber dari hadits-hadits Rasululloh SAW dan mantera tersebut bisa dipahami maknanya.

Menurut Ibnu Atsir, “Ruqyah adalah mantera atau jampi – jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena penyakit, seperti terkena sengatan kalajengking, kesurupan dan lain-lain.

Ruqyah sebagai bagian dari ajaran Islam cukup banyak tersebar di kitab – kitab hadits, demikian juga pendapat -pendapat para ulama. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad SAW meruqyah dirinya sendiri, Dia melakukannya ketika mau tidur dengan membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas. Kemudian beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, setelah itu diusapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya.

‘Aisyah r.a. juga mengatakan: “Rasululloh Sholallohu ‘alaihi wassallam memerintahkan padaku agar aku minta ruqyah dari pengaruh ‘ain ( mata yang dengki).” (HR. Muslim).

Mungkin terlintas dalam benak kita, bahwa ruqyah di khususkan untuk pengobatan penyakit yang ditimbulkan oleh ‘ain, sihir atau kerasukan jin, serta tidak mempunyai efek dalam penyakit jasmani, rohani, ataupun hati.

Pandangan semacam ini tidak dibenarkan dan merupakan kesalahan persepsi tentang ruqyah itu sendiri, agar dapat mengambil manfaat dari ruqyah dalam mengobati semua penyakit yang menimpa kita, baik penyakit secara maknawi ataupun penyakit yang dapat terindera.

Dapat disimpulkan bahwa ruqyah yang dilakukan seseorang merupakan salah satu upaya “refresh” dan pembersihan diri yang dilakukannya, supaya tercapai suatu keadaan yang dapat menentramkan jiwa dan raga di dalam kehidupannya, terutama dalam krseharian dan dalam segala aktifitasnya.

Namun  perlu diktahui bahwa ruqyah itu ada dua macam :

1. Ruqyah syar’iyyah,
2. Ruqyah syirkiyyah.

Yang dimaksud dengan ruqyah syar’iyyah adalah, ruqyah yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam dan tidak menggunakan bantuan jin (hanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a – do’a yang diajarkaan Rasululloh SAW).

Sedangkan yang dimaksud ruqyah syirkiyyah, adalah ruqyah yang mengandung kemusyrikan karena ruqyah ini menggunakan bantuan jin untuk saling bekerjasama. Hal ini dilarang oleh agama islam.

Untuk ruqyah syar’iyyah dianjurkan digunakan sebagai sarana dari seluruh penyakit yang kita alami, meski bukan berarti tidak diperbolehkan menggunakan sarana penyembuhan lain seperti ke dokter, memakai obat atau mengunjungi psikiater terpercaya.

Pengobatan ruqyah syar’iyah akan bermanfaat dengan terpenuhinya dua syarat, yaitu unsur dari si penderita sendiri dan bebrapa unsur dari pihak yang memberikan pengobatan. Kemudian pada akhirnya mencapai manfaat.

Sedangkan manfaat terapi ruqyah syar’iyyah dalam hal ini adalah untuk mengobati penyakit fisik atau psikis karena gangguan dari jin dan serangan sihir kepada manusia.

Gangguan jin atau masuknya jin pada manusia disebabkan banyak faktor, diantaranya yaitu jin lelaki jatuh cinta pada seorang wanita atau jin perempuan jatuh cinta pada seorang lelaki, kezhaliman manusia terhadap jin dengan menumpahkan air panas kepadanya (di WC, tempat pembuangan sampah dan lobang) atau menimpakan dari tempat yang tinggi sedangkan manusia dalam keadaan tidak mengetahuinya. Selain itu juga karena kezhaliman jin terhadap manusia seperti mengganggunya tanpa sebab.

Mungkin ada sebagian orang di sekitar kita yang merasakan atau mengalami hal demikian, terkadang seseorang tidak menyadari terkenanya gangguan jin, karena jin ini sangat tersembunyi dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Seperti pria atau wanita yang jomblo (belum mempunyai pacar/pasangan hidup) tapi sudah berumur, ketika menjalin hubungan sering sekali kandas di tengah jalan kemudian menjadi penyebab seseorang lama untuk mengarungi indahnya bahtera sebuah pernikahan.

Dalam sudut pandang ruqyah, salah satu gangguan jin yang terjadi dan dialami manusia yang berkaitan erat dengan pasangan hidup jika terjadinya jalinan cinta tidak wajar.

Jalinan cinta itu antara jin dengan manusia, apabila jin sudah jatuh cinta kepada manusia maka akan menjadikan kecemburuan yang amat sangat tanpa atau dengan manusia itu menyadarinya. Jin ini akan berupaya mengganggu manusia yang dicintainya, hal ini merupakan salah satu bentuk gangguan jin kepada manusia. Masalah seperti itu kebanyakan terjadi pada pria atau wanita yang menjomblo.

Ketika pria atau wanita jomblo itu jatuh cinta kepada sesama manusia, jin ini akan terus mengganggu dengan berbagai cara,  yang pada akhirnya si jomblo ini tidak memiliki pasangan sampai usia tua.

Gangguan semacam ini merupakan gangguan yang berkepanjangan dan memakan waktu relatif lama, jika tidak ada upaya penanganan serius maka hal ini menjadi gangguan total dan akan berdampak ke aspek kehidupan lainnya, karena jin yang sudah menempati pada bagian syaraf dan terjadinya penyumbatan pada syaraf.

Apalagi jika tidak dilakukan penanganan secara berkelanjutan dengan tahapan yang ada, maka akan berakibat buruk secara psikis maupun secara raga untuk penderitanya.

Perlu diketahui, jin tidak bisa mengganggu manusia kecuali dalam salah satu sebab dari empat keadaan berikut ini :

1. Marah sekali,
2. Takut sekali,
3. Senantiasa bernafsu syahwat dan
4. Dalam kondisi lalai dari mengingat Allah SWT dan lalai menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Kabul Wibowo, S.Sos Adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Yogyakarta.