Fokuscilacap.com, Jakarta – Material jembatan apung yang ambruk pada Kamis (1/12/2016) lalu di Kampung Laut Cilacap Jawa Tengah mulai dievakuasi agar tak mengganggu aktivitas warga setempat. Kini evakuasi sudah mulai dilakukan sejak kemarin, Sabtu (3/12/2016).

Anggota tim riset sistem modular wahana apung Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Diana Dewi mengatakan, pihaknya sesegera mungkin melakukan evakuasi sampai lalu lintas air terbuka dan struktur jembatan tidak membahayakan pelayaran.

Dia mengaku masih belum mengetahui waktu perbaikannya, lantaran masih menunggu hasil evaluasi usai peristiwa yang menyebabkan beberapa warga luka ringan. “Rencana perbaikan masih dalam evaluasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/12/2016).

Sebelumnya dari rilis yang diterima Fokuscilacap.com, pada Sabtu (3/12/2016), disampaikan runtuhnya jembatan apung tersebut terjadi saat akan dilaksanakan persiapan akhir jembatan apung.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Herry Vaza mengemukakan, sehari sebelum runtuhnya jembatan apung sempat diujicobakan untuk perlintasan motor.

“Pada Rabu, 30 November 2016, dilakukan penyambungan jembatan pendekat dengan dudukan jembatan di darat (abutmen) pada kedua sisi dan berhasil tersambung. Selanjutnya pada hari yang sama dilakukan ujicoba perlintasan sepeda motor untuk mengevaluasi kehandalan sambungan antara abutmen dan jembatan pendekat,” tulisnya.

Setelah dilakukan uji coba, jelas Herry, diputuskan untuk dilakukan pemasangan pengunci ponton atau mooring pada Kamis (1/12/2016). Dikemukakannya, pada Kamis itu dilakukan pekerjaan finalisasi pemasangan tiang pengunci ponton dengan cara menegangkan kabel sling yang sudah terpasang.

“Sekitar pukul 12.00 WIB, pekerjaan pemasangan belum selesai karena tim konstruksi beristirahat. Kemudian sekitar pukul 12.15 WIB, beberapa warga dan anak-anak yang baru selesai sekolah melintasi dan berkumpul di tengah bentang jembatan, sehingga sekitar satu menit kemudian jembatan melengkung dan patah pada bagian tengah bentang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim riset Sistem Modular Wahana Apung, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR, Nazib Faisal merencanakan akan akan melakukan desain ulang jembatan apung tersebut. “Redesign itu dalam arti ada beberapa batang-batang yang perlu diganti. Kita mencoba hitung ulang lagi, seperti yang kemarin kita lakukan untuk masalah keamanan,” katanya.

Nazib Faisal mengklarifikasi, bahwa batang jembatan apung tak patah. Batang jembatan hanya melengkung lantaran menahan beban berat tanpa disangga dengan angkur. “Pada pagi hari sebelum ambruk, beberapa komponen dilepas sehingga jembatan tidak memiliki kekuatan untuk menahan beban yang tinggi,” katanya.

Meski begitu, Nazib menyatakan perbaikan jembatan akan diselesaikan dalam jangka kurang dari sebulan. “Kemungkinan akhir Desember 2016, jembatan apung sudah bisa digunakan sehingga siap diresmikan,” ujarnya. (yan/fkc)