Fokuscilacap.com, Cilacap – Wakil Bupati Cilacap Ahmad Edi Sisanto, akhirnya mendaftar diti ke DPW PKB sebagai Calon Bupati Cilacap di last minute saat penutupan pendaftaran atau pengembalian formulir calon bupati/wakil bupati Cilacap memang berakhir tanggal 05/05/16 kemarin.

Meski demikian, Edi Susanto membantah kalau pihaknya mendaftar ke PKB di waktu last minute. Namun setelah Fokuscilacap.com mengklarifikasi tentang kebenarannya, tokoh PKB Cilacap KH. Imdadurrohman membenarkan pendaftaran Edi.

seperti dikutip Halloapakabar.com dengan demikian, langkah Edi semakin meramaikan bursa kandidat calon bupati yang akan di usung PKB di Pilkada Cilacap 2017 mendatang. Karena sebelumnya incumbent Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji juga sudah selesai mendaftar dan telah mengembalikan formulir sebagai calon Bupati ke PKB juga.

Menanggapi hal itu, Pengamat politik Cilacap dari Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali, Priyo Anggoro mengatakan, demgan daftarnya Edi Susanti maka peta politik di Cilacap semakin seru dan berliku. Dikarenakan parpol yang ada belum ada yang sanggup mengajukan paket calon bupati/wakil bupati sendiri.

“Parpol yang ada harus berkoalisi untuk mengusung pasangan calon sehingga membuat seluruh calon bupati/wakil bupati melakukan manuver-manuver politiknya dengan mendaftar ke banyak parpol,” ungkap Prio kepada Fokuscilacap.com di Cilacap, Sabtu (7/5)

Menurut Priyo, dalam melihat fenomena Pilkada Cilacap, ada kemungkinan parpol tetap akan melakukan negosiasi dengan para kandidat yang ada dan PKB sebagai representasi partainya Nahdiyin pasti memiliki posisi strategis dalam peta percaturan politik di Cilacap.

“Akan tetapi negosiasi parpol dengan kandidat akan selesai bila parpol menentukan parpol lain sebagai mitra koalisi sehingga terbentuklah koalisi solid dalam rangka suksesi kandidat yang diusung bersama,” jelasnya.

Meski demikian, koalisi itu juga kata Prio, bisa jadi untuk bragening politik transaksional. Karena politik di Cilacap hal semacam itu tidak bisa di hindari. “Hari ini transaksional, memang semua menghindari perilaku politik menyimpang seperti money politic tapi cost politik tetap harus ada sehingga membuat parpol harus mencari kandidat yang mampu memberi akses cost politik,” ujar Priyo.

Menurutnya, Pilkada Cilacap akan semakin menarik, ditengah peta politik yang belum jelas semua. Karena saat Pilkada semua kepentingan dalam strata kepengurusan parpol bermain. “Mulai dari pusat, pengurus wilayah hingga pengurus daerah,” tandasnya.

Untuk di ketahui, Posisi PKB sebagai basis NU di Cilacap terus jadi rebutan. Pasalnya, posisi Nahdatul Ulama pada setiap pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) terasa sangat penting. Karena dengan sumber daya yang dimilki mempunyai kekuatan yang sangat signifikan.

Begitupun dengan Nahdatul Ulama (NU) di pilkada Cilacap, para Calon Bupati dan Wakil Bupati Cilacap terus bersaing mencari simpati para ulama dan Kiai agar rekomendasi dukungan bisa di berikan.

Rebutan suaru NU itu, karena tak lepas dari kebijakan dan dukungan besar para kiai, anggota yang dimiliki NU, sehingga menjadi daya pikat luar biasa. Sebab NU memiliki jaringan organisasi yang mapan mulai pusat, wilayah, daerah, kecamatan, hingga desa dan kelurahan. Karena itulah, tidak mengherankan jika beberapa calon yang running dalam pilkada serentak pasti memanfaatkan potensi NU.

Sebelumnya, Ketua PBNU, KH. Marsudi Syuhud mengatakan, dengan kebesaran NU, maka alangkah ruginya bila incumbent yaitu Bupati Cilacap Tatto S. Pamuji tidak menggandeng kader NU. Apalagi kompetisi dalam pilkada begitu ketat, semua pasangan calon berusaha untuk meraih dukungan NU.

Maka Tatto harus memilih nama – nama ini di Cilacap seperti, Ketua DPC PKB Cilacap, H. Ahmad Muslikhin, M.Si., Lubadul Fikri, putra Mustasyar PBNU, KH. Khasbulloh Badawi, KH. Shoim El Amin, Lc., Ketua RMI Cilacap yang juga menantu KH. Chasbullah Badawi, dan Ketua FKUB Cilacap, Moh. Taufiq Hidayatulloh, S.Ag serta Ketua GP Ansor Kabupaten Cilacap, Libanun Muzazin.

“Dukungan itu bisa diberikan melalui tokoh-tokoh berpengaruh. Maka calon harus sesering mungkin “sowan” ke pimpinan NU sebagai “kulonuwun politik”. Budaya sowan ini merupakan ikhtiar memperoleh restu dan dukungan politik. Bagi  calon sebelum di pasangkan dan di tetapkan sebagai peserta Pilkada,” jelasnya kepada Fokuscilacap.com ketika berbincang santai di kediamannya, Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat (6/5) kemarin. (pri/drw/fkc)