Oleh : Priyo Anggoro

SUDAH sebegitu barbarkah masyarakat kita, maling ampli Mushola di daerah Bekasi harus meregang nyawa dengan cara dibakar oleh massa. Ironisnya lagi ternyata dia bukan maling ampli, tapi korban salah sasaran. Karena dia membawa ampli dan dituduh maling ampli.

Seorang syahid itu dikenal bernama Muhamad Zahra, sosoknya dikenal sebagai tukang servis ampli dan mix. Dia juga rajin mendatangi Mushola atau Mesjid untuk menunaikan sholat. Harus dibunuh begitu saja oleh beberapa orang yang menuduhnya sebagai maling ampli.

Pada saat itu, saat dia menunaikan sholat di suatu Mushola dia terbiasa membawa amplinya masuk kedalam Mushola demi keamanan. Hingga tiba selesai dia solat dan menenteng amplinya banyak orang meneriaki dia maling ampli kemudian dimassa tanpa menginterogasi terlebih dulu. Jangankan membawanya ke penegak hukum.

Massa kemudian memukul dan tiba-tiba ada yang membakarnya, dan dengan cepat api menghanguskan seorang syahid yang saya yakin jasad dan ruhnya dimuliakan oleh Allah swt.

Mungkin cerita tentang maling yang dimassa sudah sering kita dengar. Dan beberapa ada juga yang tewas dibakar. Meskipun itu betul-betul maling nampaknya masyarakat sudah merasa jenuh dan jengah dengan kondisi sosial yang ada.

Salah satu penyebabnya adalah kurang percayanya masyarakat terhadap penegakkan hukum di Indonesia. Sehingga menimbulkan keinginan masyarakat untuk melampiaskan kekesalnnya yang menjadi hukum daerah. Bila maling disini “mati” atau bila mencuri disini akan ditelanjangi dan diarak keliling kampung, entah laki-laki atau perempuan.

Memang melihat peristiwa ini kita juga harus adil menilainya. Memang massa setempat yang menghakimi bisa dipastikan salah. Hanya saja tindakan mereka sebetulnya juga akibat akumulasi kekecewaan terhadap penegakan hukum yang tak mampu membuat efek jera. Ada sebutan dimasyarakat “paling dipenjara seminggu, udah ditebus pulang” atau ada lagi, “paling bos malingnya dah kerjasama sama aparat kalau ditangkep terus ditebus sama bos maling atau copetnya”.

Hal ini tentunya perlu dianalisa dan dikaji lebih mendalam. Apakah penegakkan hukum di negara kita sudah sesuai prosedur. Atau hukum masih tumpul dan bertekuk lutut bila berhadapan dengan kekuasaan atau berhadapan dengan uang.

Supaya korban-korban pembakaran tidak lagi terjadi. Masyarakat kita pun menjadi masyarakat yang percaya terhadap aparat penegak hukum. Bila aparat datang bukan untuk menambah masalah tapi untuk menyelesaikan masalah. Mari kita introspeksi bersama. Baik sebagai masyarakat maupun sebagai aparat. Bagaimana kita menahan diri dari hal-hal yang bisa saja membuat sengsara orang lain dan keluarganya.

Priyo Anggoro, Adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA).