Oleh : M. Taufik Hidayatulloh

Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Mustafa bin Muhammad bin Muhammad Zainal Abidin, atau dikenal sebagai Syeikh Ahmad al-Fathani, adalah ulama besar kelahiran Pattani Thailand, yang dulu merupakan Negara Islam Fattani Darussalam, yang bersebelahan dengan Negara Islam Amanilah Darussalam Philipina, yang setelah dikuasi Portugis, dirubah namanya menjadi Manila, dan teyap menjadi Ibukota negara Philipina.

Beliau ulama besar, pakar di bidang fiqh, ushul fiqh, lughoh, nahwu, shorof, tasawwuf, falak, tarekh, dan aneka disiplin keilmuan agama Islam lainnya, serta merupakan penyebar thoriqoh Syatariyah, yang kalau di kabupaten Cilacap, Mursyidnya Hadratus Syaikh KH. Chasbullah Badawi, BA, Pengasuh PP. Al Ihya Ulumaddin Kesugihan.

Pelajaran pertama, Thailand dan Philipina, sebelumnya adalah negara Islam, namun kini umat Islam di kedua negara terpojok, dan menjadi minoritas yang nyaris tidak diakui oleh pemerintah, bahkan sering mendapat perlakuan diskriminatif.

Ini pelajaran, agar di negeri kita jangan sampai hal itu terjadi, maka orang Islam harus kuat. Harus ada yang secara langsung terlibat dalam pengambilan kebijakan, tidak hanya sebagai penonton di luar ring kekuasaan, untuk tetap membela kepentingan umat Islam.

Pelajaran kedua, Kita, dulu memiliki mahaguru (hadratus syaikh) dari Thailand, dan kini mereka banyak belajar agama Islsm di Indonesia. Kalau sesekali kita mengunjungi Universitas Wahid Hasyim Semarang, kita akan berjumpa banyak mahasiswa/i asal Thailand dan Pilipina yang belajar Studi Islam di Unwahas, atas beasiswa dari Unwahas, bekerjasama dengan Kedutaan di kedua negara. Ini merupakan bukti bahwa perkembangan Islam di Indonesia cenderung lebih baik, karena periode Kesultanan Fatani Darussalam, Amanilah Darussalam dan Kesultanan Demak Bintaro, berada pada era yang sama, yakni di abad 14-an, dan merupakan pengembangan kekhalifahan Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Bayazid II.

Kuat dan bertahannya syi’ar Islam di Indonesia, juga dipengaruhi oleh kuatnya konsolidasi umat Islam di Indonesia, terutama kalangan Aswaja, yang terbukti mampu menjadi modal atas kokohnya NKRI, sehingga pemerintahan yang lahir, adalah pemerintah yang berpihak pada kepentingan umat Islam.

Dengan demikian, perjuangan melalui jalur politik, juga merupakan salah satu ijtihad untuk menguatkan Islam, sehingga umat Islam tidak perlu alergi politik.

Thailand dan Philipina, menjadi contoh, seberapa hebat-hebatnya ulama mereka, karena tidak juga melakukan gerakan politik, bahkan menjauhi, membuat konsolidasi umat agama lain yang menguasai politik, berperan efektif dalam meminimalisir gerak perkembangan Islam melalui berbagai hal.

Komite Hijaz, yang dikemudian hari melahirkan Nahdlatul Ulama, adalah contoh nyata, betapa konsolidasi politik para kyai ini penting, dan berperan dalam mengokohkan Islam Ahlussunnah wal jama’ah di Nusantara, bahkan di dunia.

Penulis Adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap