Oleh : Priyo Anggoro

PILKADA Cilacap yang akan diselenggarakan serentak dengan daerah lain pada tanggal 15 Februari 2017 akan menjadi pertarungan tiga serigala politisi besar Cilacap.

Kepastian ini didapat setelah KPUD Cilacap resmi menutup pendaftaran calon pada Jum’at (23/9/2016) pukul 00.00 WIB dini hari. Dan pasangan yang telah mendaftar dan memenuhi kriteria awal sebagai pasangan calon sudah melengkapi berkas yang diminta KPUD.

Ketua KPUD Cilacap, Sigit Kwartianto, telah menerima berkas yang ada, meskipun ada sedikit kekurangan itu sifatnya tidak prinsip dan masih bisa ditolerir untuk dilengkapi kemudian setelah 1 minggu setelah pendaftaran.

Bila melihat latar belakang calon bupati yang ada, ketiga-tiganya adalah kawan, yang secara politik pernah bersama-sama. Pada medio pemenangan Pilkada Cilacap tahun 2007 atau 9 tahun yang lalu, mereka adalah satu kesatuan utuh dalam pemenangan pasangan Probo – Tatto saat itu. Fran Lukman sebagai ketua DPRD Cilacap dan ketua DPC PDIP Cilacap, Taufik Nur Hidayat sebagai ketua PAC PDIP Cilacap Selatan dan Tatto adalah calon wakil bupati yang diusung untuk menjadi wakilnya Probo Yulastoro. Terlihat banyak sekali dokumentasi yang memperlihatkan kebersamaan mereka.

Maka tidak heran, banyak pameo yang beredar dalam masyarakat, bahwa siapapun yang akan keluar sebagai pemenang dalam Pilkada Cilacap 2017, Cilacap tetap akan menjadi kabupaten yang biasa-biasa saja.

Menilik dari peta koalisi Parpol dan calon yang akan diusung sama sekali tidak ada kejutan, bahkan prediksi ini menjadi sangat kuat bahwa Cilacap masih sangat krisis kader muda potensial untuk berlaga menuju R1.

Ekspektasi publik terhadap Pilkada nampaknya tidak terlalu besar, setelah fokuscilacap.com melakukan jajak pendapat, 76,2% masyarakat Cilacap masih apatis dan belum tahu kapan Pilkada akan diselenggarakan. Apalagi mengetahui profil calon yang akan diusung besok. Hal ini menjadi sangat wajar mengingat banyak masyarakat Cilacap yang jauh dari akses informasi. Bahkan di beberapa daerah masih banyak ditemukan warga masyarakat yang buta huruf.

Ini juga mengindikasikan, bahwa pertarungan Pilkada besok akan lebih mengarah kepada pertarungan elit an sich atau branding figur. Bukan pertarungan gagasan dan visi.

Satu-satunya saluran media yang sangat efektif saat ini adalah media sosial. Dalam penelitian yang dilakukan fokuscilacap.com sebanyak 37,6 % masyarakat Cilacap mampu mengakses internet baik melalui PC maupun melalui smartphone. Hal ini menjadi peluang bagi tim sukses masing-masing kandidat untuk memaksimalkan saluran informasi di media sosial.

Negatif Campaign yang mengarah pada Black Campaign dalam media sosial juga menjadi catatan tersendiri, karena sulit sekali membuktikan siapa pelakunya dengan maraknya akun palsu di media sosial. Parahnya juga banyak pengguna media sosial baru yang menerima mentah-mentah informasi yang didapat, tanpa menyadari bahwa di dalam sosial media pun banyak beredar informasi yang hoax bahkan menjurus ke fitnah.

Hal ini menjadi catatan bagi kelas menengah, yang mampu menjadi garda terdepan untuk mengkampanyekan transparansi ide maupun gagasan calon, profil calon bupati/wakil bupati, anggaran kampanye dan jumlah sumbangan yang mengalir kepada tim kampanye.

Masyarakat Cilacap masih dalam tahap menuju kedewasaan dalam berdemokrasi. Dan step by step akan menemukan iramanya.

Bapak Tri Mulya, sebagai pengamat politik pro demokrasi Cilacap, seorang kapten purnawirawan asli Cilacap yang juga sebagai ketua Garda Bercahaya mengungkapkan ” Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya”.

Hal ini mengandung makna, bahwa Cilacap kedepan secara otomatis akan melakukan regenerasi kepemimpinan. Pada saat itulah kader muda potensial akan tampil dalam ranah publik dan mengambil peran untuk melakukan perubahan sosial yang massif. Karena kultur pemuda kita saat ini lebih melek terhadap informasi. Sehingga golongan tua akan digantikan dengan alami dan mengakselerasi kemajuan Cilacap dengan memberi support terhadap pemuda-pemuda Cilacap. Tentunya melihat potensi dan bakat masing-masing pemuda Cilacap.

Priyo Anggoro, adalah dosen Universitas NU Al Ghazali dan pengamat sosial.